Selasa, 27 Desember 2016

Mr. Master


Sumber: suaramahasiswa.com

Seorang anak yang lahir dari keluarga mampu, namun menjadi  anak jalanan yang nakal menjadikan ia seorang Bapak Pendiri Sekolah Master.  Lahir dari emperan masjid belakang terminal Depok, Nur Rohim membangun impian anak-anak Marginal. Dengan latar belakang muridnya yang tidak jelas, yaitu pengamen, pencopet, gelandangan, bahkan orang gila pun diterimanya dengan senang hati di sekolah ini.

Berawal dari keprihatinan, dimana banyaknya Perguruan Tinggi nan megah terdapat di Kota Depok. Namun untuk beberapa orang masih dirasa jauh untuk dapat mengakses layanan pendidikan. Rohim juga merasa ada tidak selarasnya salah satu visi misi kota Depok, yaitu kota Pendidikan.

“Kalau nungguin pemerintah harus sampai kapan anak-anak ini bisa mendapatkan,” ujar Nur Rohim.

Sebenarnya Rohim tidak sedang menyalahkan pemangku kekuasaan di daerahnya, Depok, Jawa Barat. Namun ia rasa memang ada yang harus dibenahi dan dipikirkan. Menurutnya ini adalah korban sistem kebijakan dan ketidak-berdayaan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasar.

“Kita kan melayani yang tidak terlayani, menjangkau yang tidak terjangkau. Jadi kita intinya bagaimana memberikan kesempatan buat masyarakat marginal untuk meraih harapan dan impiannya,” jawab Nur Rohim dengan lantang.

Saat ini, Sekolah Master memiliki lahan sekitar 4000 meter persegi, dimana tempat tersebut dianggap strategis karena di himpit oleh Terminal Depok, Stasiun Depok Baru, dan beberapa Mall. Di tengah keriuhan aktivitas inilah, Romusa, panggilan buatan Rohim yang artinya Rombongan Muka Susah ini mencoba meraih impiannya untuk perubahan hidup mereka.

Pria kelahiran Juli 45 tahun silam ini tidak peduli walau lahan Sekolah Master tersebut tidak memiliki izin dan sempat ingin digusur. Ia berpegang teguh pada UUD 1945, Pancasila, dan semua kitab suci agama yang menyarankan bahwa orang itu harus pintar dan harus mendapatkan pendidikan. Angkot yang sedang mengetem di Terminal pun dahulu pernah dijadikan tempat belajar bagi murid Master.

“Mau di halte, bawah pohon, mau di empang, jadi semua. Yang penting orang itu berubah karakternya,” katanya.

Sumber: sekolahmaster.org

Walaupun dengan tempat yang terbilang sederhana, bangunan semi permanen dan beberapa container warna-warni yang dijadikan kelas menjadi saksi sekitar 2000 anak-anak berusaha untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Tidak ada biaya yang membebani untuk dapat belajar disini.

Sesuai dengan lahirnya Sekolah Master pada tanggal 28 Oktober 2000, semangat sumpah pemuda juga dikobarkan oleh Nur Rohim dan teman-teman remaja masjid yang ikut merintis rumah kedua bagi para Romusa ini. Walaupun sempat tidak diberi restu oleh sang istri, ia berusaha untuk meyakinkannya.

Lima tahun awal adalah awal yang cukup berat bagi Rohim untuk mweujudkan harapan dan impian. Adanya keterbatasan dari sisi finansial dan keilmuan, hingga akhirnya berusaha untuk menggandeng semua pihak.

Bahkan ia masih mendanai sendiri Master saat itu. Untuk dia, modalnya adalah DUIT. DUIT disini maksudnya adalah Doa, Usaha, Iman, dan Tawakal. Rohim yakin setiap kebaikan itu pasti akan menjadi kekuatan energy positif dan menjadi berkah.

Baginya, jadilah orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan niscaya kita akan menemukan kebahagiaan. Itulah yang ditanamkan oleh panutannya, yaitu kakeknya sendiri. Pada dasarnya semua anak itu baik. Secara fitrah anak-anak tersebut butuh perhatian dan kasih sayang. Tidak hanya itu, mereka juga butuh ruang ekspresi dan perlindungan.

“Apa mereka masih mau hidup di jalan terus sampai tua? Kan semua juga ingin berubah, namun siapa yang memfasilitasi perubahan itu?” jelasmya.

Melakukan pendekatan dengan anak jalanan dilakukan bapak asal Tegal ini dengan penuh kasih. Warungnya iya jadikan tempat tongkrongan untuk melepas lelah setelah mereka mengamen. Jika bertemu anak-anak, selalu di ajak makan.

Kalau anak-anak gitu lapar galak kenyang bloon tuh. Kalau ketemu anak jalanan tanya dek sini, heh udah pada makan belum?,” ujarnya sambil melambaikan tangan.

Pendekatannya cukup sederhana, Nur Rohim harus masuk ke dalam dunia mereka. Ia harus sabar dan menjadi teman dengan mendengarkan keluh kesah anak-anak itu. Dengan itu, kita bisa mengetahui dan mengerti dunia mereka seperti apa, yang rata-rata di intimidasi dan di eksploitasi oleh predator-predator sekitar mereka.

Nur Rohim juga membuat sebuah koperasi, karena ia kerap dititipkan sejumlah uang hasil dari jualan atau mengamen hari itu. Akibat hal ini, Rohim sempat dituding oleh pihak kepolisian yang menganggap ia mendapatkan “uang jago” atau setoran dari anak-anak jalanan. Untuk menghindari kesalah-pahaman akhirnya dibuatlah sebuah koperasi, agar anak-anak bisa menyimpan uangnya dengan aman.

Kalau dia taro trus dia tidur dimana-mana ujung-ujungnya hilang. Akhirnya saya bikin koperasi, saya dituduh begitu,” ucap Rohim sambil tertawa.

Berangkat dari kehidupan masa kecilnya dari keluarga yang berkecukupan, namun orang tuanya harus memutuskan untuk bercerai. Dirasa kurang akan kasih sayang, Nur Rohim menghabiskan masa kecilnya di Terminal Tanah Abang. Rohim kecil hidup bersama teman-temannya yang kebanyakan adalah anak jalanan. Dari sanalah ia memiliki pandangan yang berbeda tentang stigma masyarakat mengenai anak-anak marginal.

Pria berkacamata ini pernah merasakan saat-saat ia ingin berhenti untuk membangun sekolah Master. Sempat merasa egois dimana dia hanya ingin mencari materi. Apalagi dahulu ia sering dicibir dan dianggap orang aneh, karena mengumpulkan yang orang yang tidak jelas latar belakangnya. Namun hanya satu yang terbesit di pikiran Rohim.

“Ketika mereka punya harapan dan impian, kita ga tega buat menyia-nyiakan harapan mereka,” ujar Rohim dengan air muka yang mulai berubah.

Namun, perasaan tulusnya kini terbayarkan dengan anak-anak lulusan dari sekolah Master bisa menorehkan prestasi, tidak kalah dengan sekolah formal pada umumnya. Rasa bangga saat anak-anaknya di Master bisa mendapatkan beasiswa, dan mengangkat martabat diri anak itu sendiri beserta keluarganya.

Harapan dari seorang Nur Rohim untuk kedepannya adalah untuk membuat dana asosiasi bisnis dari Master. Menjadi sekolah yang mandiri adalah mimpinya, sehingga dapat menjadi role model bagi pemerintahan daerah maupun pusat.


Ia selalu beranggapan apa yang terjadi hari ini adalah hasil pemikiran dari masa lalu kita, sehingga pemikiran yang akan datang harus dipersiapkan sejak hari ini. Dan kini ia memikirkan ke depannya agar tidak ada lagi orang-orang yang bingung untuk bisa bersekolah.

Selasa, 15 November 2016

Obsesi Kurus, Sehat Tak Diurus


Sebingkai foto pada zaman SMA, di dalamnya gadis belia yang masih sangat polos dengan tubuh gemuk, memakai abju berwarna putih. Penampilan fisik sama sekali bukan perhatiannya sehari-hari. Gadis cuek yang selalu berpakaian seadanya tanpa memilah-milah pakaian. Putri, yang waktu itu masih kutu buku dan berteman dengan kelompok yang setipe. Beratnya waktu itu bisa mencapai 68kg, untuk ukuran badan Putri sih itu sudah memasuki over-weight.
Berawal dari masuklah Putri ke jenjang selanjutnya, yaitu dunia perkuliahan. Dia melihat suasana berbeda dibanding masa sekolahnya dahulu, bahkan semenjak hari pertama masa orientasi mahasiswa. Suasana yang dimaksud adalah teman-teman barunya yang terlihat memperhatikan tampilan fisiknya. Putri merasa teman-teman barunya terlihat cantik dan “modis” padahal masih dengan seragam SMA-nya.
“Kok ngeliat temen-temen baru gue ini kok, pada cantik-cantik banget. Pake baju juga kayak enak dilihat gitu. Sementara gue, ah, gue gabisa ceritain. Intinya, engga banget,” ungkapan Putri mengingat masa-masa tersebut sambil masih dengan melihat foto yang ia pegang.
Remaja masa kini memang sangat peduli akan kecantikan wajah dan juga tubuhnya. Hal ini sejalan dengan penelitian di beberapa belahan dunia yang dilakukan oleh seorang pemerhati gizi di Amerika, yaitu Neumark-Sztainer, dan nyatanya terdapat 44% remaja putri yang melakukan diet berat badan di Amerika. Berdasarkan AC Nielson’s Report, perilaku diet yang ekstrim juga telah merambah di Asia Tenggara.
Adanya cermin besar yang berada di dalam toilet kampus mungkin menjadi kesenangan bagi para mahasiswi karena bisa melihat bentuk tubuh dengan clearly. Tetapi disitulah yang membuat Putri semakin tidak pede dengan berat badannya.
“Setiap gue melihat ke kaca, gue selalu merasa ‘ya ampun, temen-temen gue kurus banget, enak banget dilihat’, dan, dibandingin badan gua yang sebesar ini, oh my God,” dengan ekspresi yang mulai memperlihatkan emosi kesalnya saat melihat bentuk badannya sendiri.
Selain merasa kalau berat badannya menjadi suatu masalah terhadap penampilan fisiknya, Putri juga merasa terhambat dan malu karena menjadi lebih lambat dibanding “maba” yang lain jika melakukan sesuatu seperti lari atau kegiatan ospek lainnya. Poin ini yang makin memantapkan Putri untuk melakukan diet.
Menurut Grogan lulusan Manchester Metropolitan University, yang mempelajari tentang Body Image, tren wanita kurus mulai menjamur di tahun 1980-an dan semakin meningkat hingga saat ini, jadi sebenarnya wajar saja jika orang saat ini dapat melakukan berbagai cara demi mendapatkan tubuh yang kurus seperti model-model di majalah.
Awal masa perkuliahan menjadi awal pula untuk Putri memperbaiki penampilannya terutama mengurangi berat badannya. Entah kebetulan, dia mendengar dari temannya jika ada obat yang di klaim bagus untuk menurunkan berat badan. Demi obsesinya menjadi langsing bagaikan artis Korea, meminum obat tersebut menjadi pilihan Putri.
Walaupun harus rela nabung selama satu bulan karena harganya yang mahal, bagi Putri obat tersebut dirasa sangat ampuh. Namun, saat sedang mengonsumsi obat tersebut ia merasa bukan dirinya sendiri. Dia tidak merasakan lapar sama sekali, bahkan nafsu makannya pun hilang walaupun makanan kesukaannya seperti cokelat dan cheese cake ada di depan matanya.
 “Ini tuh tubuh gue kenapa?” ungkap Putri dengan ekspresifnya menceritakan pengalamannya.
Obat tersebut pernah membuat Putri hanya minum air putih dan makan dua potong roti dalam tiga hari berturut-turut, tetapi tidak ada rasa lapar sama sekali yang bisa dirasakan. Namun dibalik pengaruh obat tersebut, Putri merasakan efek samping yang cukup menyiksa badannya. Selain perutnya yang perih, resah dan tidak bisa tidur saat malam hari karena  membuat pikiran yang aneh-aneh dan tidak tenang.
Ini sama halnya seperti yang dikutip pada tribunnews.com, dimana penggunaan jangka panjang pil diet akan menyebabkan penglihatan kabur, mulut kering, mual, muntah, bahkan dapat menyebabkan penyakit jantung dan insomnia maupun gelisah.
Selama sebulan diet ketat, Putri hanya mengisi badannya dengan banyak minum air mineral, dan terbukti memang membuat badan Putri lebih kurus dengan cepat. Dibalik tubuhnya yang berangsur kurus inilah Ia menjadi sering mengeluarkan keringat dingin, jantung yang berdebar, muka yang tidak terlihat segar alias pucat, dan konsentrasi terganggu hingga diajak berbincang oleh orang pun tidak fokus.
Dikutip dari womenshealthmag.com sebenarnya efek tersebut sudah pernah diteliti jika orang yang minum pil diet biasanya akan mengalami peningkatan detak jantung, nyeri dada, dan akhirnya mengalami kerusakan jantung dan berbagai kesehatan lainnya. Seperti yang disebutkan pula dalam laman health.usnews.com, dimana tubuh kita tidak bisa melakukan diet yang ekstrim, dan itu merupakan hal yang salah menurut para ahli gizi. Sampai pada akhirnya, wanita berjilbab ini merasa ada yang tidak beres dengan minuman kesayangannya itu dan memutuskan untuk berhenti.
“Obat ini tuh kayaknya, udah deh stop deh, lama-lama gue bisa mati kayaknya minum obat kayak gini”, lontaran Putri dengan mimic yang merasa kapok.
Hal yang sama dirasakan juga oleh Ayu yang tidak pede dengan bentuk badannya. Padahal wanita semampai ini bisa dikatakan kurus untuk badannya sendiri yang memiliki tinggi 171cm dengan berat badan 51kg. Ayu memutuskan untuk diet karena tuntutan profesi sebagai model freelance yang bagi dia mengharuskan seseorang sekurus mungkin.
“Tapi karena emang, emm gimana ya, ketika aku nyari uang, dan aku berprofesi sebagai model, temen-temen aku pasti yang lebih kurus daripada aku kan,” lontaran perasaan Ayu dengan bawaan santai.
“Padahal setelah aku piker-pikir dulu aku ga gendut juga, tapi aku ngerasa aku butuh banget diet yang bisa sampai nyakitin diri aku sendiri,” lanjutnya.
Menurut laporan National Health Service (NHS), ada beberapa faktor pemicu orang memilih diet ketat, diantaranya:
1.      Faktor Psikologis: kecenderungan mengalami  dan mengatasi stres, mudah depresi dan cemas,  khawatir yang berlebihan akan masa depan, susah mengendalikan emosional hingga memiliki obsesi untuk kurus.
2.      Faktor Lingkungan: kecenderungan budaya barat yang menilai wanita yang ideal dan cantik adalah  yang bertubuh kurus. Tekanan dan stres di sekolah atau lingkungannya, intimidasi, khususnya tentang berat badan ideal. Selain itu, bentuk tubuh juga mempengaruhi dalam pekerjaan maupun hobi tertentu, dimana tubuh kurus adalah bentuk yang ideal.
3.      Faktor Biologis dan Genetik: perubahan fungsi otak atau kadar hormon. Bagian otak yang mengontrol nafsu makan mempengaruhi sehingga dapat menyebabkan perasaan cemas dan rasa bersalah setelah makan.
Model satu ini menjalani diet dengan tidak makan nasi selama satu bulan, dan hanya diganti satu kentang rebus untuk makanan seharian. Bukan hanya merubah pola makan, tetapi dibarengi juga olahraga yang diforsir. Pada akhirnya ia merasa, selama satu bulan masa-masa kelam untuknya itu berhasil membuat berat badannya sekitar 40-an kg.
“Aku tuh sampe kalau misalnya tiduran trus aku tengkurap, aku tuh bisa rasain tulang-tulang aku karena saking ga ada dagingnya lagi” sambil memegang perutnya yang kini terlihat sedikit lebih berisi.
Efek yang dirasakan sama seperti Putri, inginnya hanya tidur, tidak bisa banyak bicara apalagi beraktifitas dengan normal, gampang kedinginan hingga fisiknya yang sempat drop karena daya tahan tubuh yang sangat menurun. Puncaknya saat akhirnya ada masalah pada lambung Ayu yang sampai saat ini masih menyiksa tubuhnya.
Mereka yang merasa telah melakukan hal yang salah, akhirnya benar benar meninggalkan diet ekstrim versinya masing-masing. Beberapa efek buruk pun juga menyergap dua wanita cantik ini, seperti  yang dikutip dari health.usnews.com, antara lain:
1.      Gangguan Pola Makan: kemungkinan kita akan mengalami gangguan pola makan seperti anoreksia akan semakin besar.
2.      Malnutrisi: tubuh kita bisa mengalami kekurangan gizi. Jika tubuh mengalami malnutrisi, maka resiko lain yang akan timbul adalah tubuh mudah mengalami 3L (lemah, lesu, lunglai), insomnia, dan gangguan fungsi memori.
3.      Imunitas menuru: bisa berakibat pada menurunnya tingkat imunitas sehingga dapat dengan mudah sakit.
4.      Lebih bertambah gemuk: dengan melakukan diet ekstrim, ketika kita merasa sudah berhasil dengan diet kita, diet ini justru akan membuat tubuh kita semakin melar disbanding sebelumnya.
Betapa buruknya dampak yang dihasilkan diet ekstrim terhadap tubuh, ada baiknya pria maupun wanita bisa berhati-hati dalam menjalani program diet yang lebih sehat. Apa yang dilakukan Putri dan Ayu hanya satu bulan, namun efek negatif yang ditimbulkan mempunyai jangka waktu yang sangat panjang. Wajar kalau kita menyukai yang instan, namun jangan membuat kesehatan keteteran.