![]() |
| Sumber: suaramahasiswa.com |
Seorang anak yang lahir dari keluarga
mampu, namun menjadi anak jalanan yang
nakal menjadikan ia seorang Bapak Pendiri Sekolah Master. Lahir dari emperan masjid belakang terminal
Depok, Nur Rohim membangun impian anak-anak Marginal. Dengan latar belakang
muridnya yang tidak jelas, yaitu pengamen, pencopet, gelandangan, bahkan orang
gila pun diterimanya dengan senang hati di sekolah ini.
Berawal dari keprihatinan, dimana
banyaknya Perguruan Tinggi nan megah terdapat di Kota Depok. Namun untuk
beberapa orang masih dirasa jauh untuk dapat mengakses layanan pendidikan. Rohim
juga merasa ada tidak selarasnya salah satu visi misi kota Depok, yaitu kota
Pendidikan.
“Kalau nungguin pemerintah harus
sampai kapan anak-anak ini bisa mendapatkan,” ujar Nur Rohim.
Sebenarnya Rohim tidak sedang
menyalahkan pemangku kekuasaan di daerahnya, Depok, Jawa Barat. Namun ia rasa
memang ada yang harus dibenahi dan dipikirkan. Menurutnya ini adalah korban
sistem kebijakan dan ketidak-berdayaan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasar.
“Kita kan melayani yang tidak
terlayani, menjangkau yang tidak terjangkau. Jadi kita intinya bagaimana
memberikan kesempatan buat masyarakat marginal untuk meraih harapan dan
impiannya,” jawab Nur Rohim dengan lantang.
Saat ini, Sekolah Master memiliki
lahan sekitar 4000 meter persegi, dimana tempat tersebut dianggap strategis
karena di himpit oleh Terminal Depok, Stasiun Depok Baru, dan beberapa Mall. Di
tengah keriuhan aktivitas inilah, Romusa, panggilan buatan Rohim yang artinya
Rombongan Muka Susah ini mencoba meraih impiannya untuk perubahan hidup mereka.
Pria kelahiran Juli 45 tahun silam
ini tidak peduli walau lahan Sekolah Master tersebut tidak memiliki izin dan
sempat ingin digusur. Ia berpegang teguh pada UUD 1945, Pancasila, dan semua
kitab suci agama yang menyarankan bahwa orang itu harus pintar dan harus
mendapatkan pendidikan. Angkot yang sedang mengetem di Terminal pun dahulu
pernah dijadikan tempat belajar bagi murid Master.
“Mau di halte, bawah pohon, mau di
empang, jadi semua. Yang penting orang itu berubah karakternya,” katanya.
![]() |
| Sumber: sekolahmaster.org |
Sesuai dengan lahirnya Sekolah Master
pada tanggal 28 Oktober 2000, semangat sumpah pemuda juga dikobarkan oleh Nur
Rohim dan teman-teman remaja masjid yang ikut merintis rumah kedua bagi para
Romusa ini. Walaupun sempat tidak diberi restu oleh sang istri, ia berusaha
untuk meyakinkannya.
Lima tahun awal adalah awal yang cukup
berat bagi Rohim untuk mweujudkan harapan dan impian. Adanya keterbatasan dari sisi finansial dan
keilmuan, hingga akhirnya berusaha untuk menggandeng semua pihak.
Bahkan ia masih mendanai sendiri Master
saat itu. Untuk dia, modalnya adalah DUIT. DUIT disini maksudnya adalah Doa,
Usaha, Iman, dan Tawakal. Rohim yakin setiap kebaikan itu pasti akan menjadi kekuatan energy
positif dan menjadi berkah.
Baginya, jadilah orang-orang yang bermanfaat bagi
orang lain, dan niscaya
kita akan menemukan kebahagiaan. Itulah yang ditanamkan oleh panutannya, yaitu
kakeknya sendiri. Pada dasarnya semua anak itu baik. Secara fitrah anak-anak tersebut butuh perhatian dan kasih sayang. Tidak hanya itu, mereka juga butuh ruang ekspresi dan perlindungan.
“Apa mereka masih mau hidup di jalan
terus sampai tua? Kan semua juga ingin berubah, namun siapa yang memfasilitasi
perubahan itu?” jelasmya.
Melakukan pendekatan dengan anak jalanan
dilakukan bapak asal Tegal ini dengan penuh kasih. Warungnya iya jadikan tempat
tongkrongan untuk melepas lelah setelah mereka mengamen. Jika bertemu
anak-anak, selalu di ajak makan.
“Kalau anak-anak gitu lapar galak kenyang
bloon tuh. Kalau ketemu anak jalanan tanya
dek sini, heh
udah pada makan belum?,” ujarnya sambil melambaikan tangan.
Pendekatannya cukup sederhana, Nur Rohim
harus masuk ke dalam dunia mereka. Ia harus sabar dan menjadi teman dengan
mendengarkan keluh kesah anak-anak itu. Dengan itu, kita bisa mengetahui dan
mengerti dunia mereka seperti apa, yang rata-rata di intimidasi dan di
eksploitasi oleh predator-predator sekitar mereka.
Nur Rohim juga membuat sebuah koperasi,
karena ia kerap dititipkan sejumlah uang hasil dari jualan atau mengamen hari
itu. Akibat hal ini, Rohim sempat dituding oleh pihak kepolisian yang
menganggap ia mendapatkan “uang jago” atau setoran dari anak-anak jalanan.
Untuk menghindari kesalah-pahaman akhirnya dibuatlah sebuah koperasi, agar
anak-anak bisa menyimpan uangnya dengan aman.
“Kalau dia taro trus dia tidur
dimana-mana ujung-ujungnya hilang. Akhirnya saya bikin koperasi, saya dituduh begitu,” ucap Rohim sambil
tertawa.
Berangkat dari kehidupan masa kecilnya
dari keluarga yang berkecukupan, namun orang tuanya harus memutuskan untuk
bercerai. Dirasa kurang akan kasih sayang, Nur Rohim menghabiskan masa kecilnya
di Terminal Tanah Abang. Rohim kecil hidup bersama teman-temannya
yang kebanyakan adalah anak jalanan. Dari sanalah ia memiliki pandangan yang berbeda
tentang stigma masyarakat mengenai anak-anak marginal.
Pria berkacamata ini pernah merasakan
saat-saat ia ingin berhenti untuk membangun sekolah Master. Sempat merasa egois
dimana dia hanya ingin mencari materi. Apalagi dahulu ia sering dicibir dan dianggap orang aneh, karena mengumpulkan yang orang yang tidak jelas
latar belakangnya. Namun hanya satu yang terbesit di pikiran Rohim.
“Ketika mereka punya harapan dan impian, kita ga tega buat menyia-nyiakan
harapan mereka,” ujar Rohim dengan air muka yang mulai berubah.
Namun, perasaan tulusnya kini
terbayarkan dengan anak-anak lulusan dari sekolah Master bisa menorehkan
prestasi, tidak kalah dengan sekolah formal pada umumnya. Rasa bangga saat anak-anaknya
di Master bisa mendapatkan beasiswa, dan mengangkat martabat diri anak itu
sendiri beserta keluarganya.
Harapan dari seorang Nur Rohim untuk
kedepannya adalah untuk membuat dana asosiasi bisnis dari Master. Menjadi
sekolah yang mandiri adalah mimpinya, sehingga dapat menjadi role model bagi pemerintahan daerah
maupun pusat.
Ia selalu beranggapan apa yang terjadi hari ini adalah hasil pemikiran dari masa lalu kita, sehingga pemikiran yang akan
datang harus dipersiapkan sejak hari ini. Dan kini ia
memikirkan ke depannya agar tidak ada lagi orang-orang yang bingung untuk bisa bersekolah.

