Tidak dapat dipungkiri jika setiap hari kita dibanjiri olah
berbagai data. Informasi baru selalu berdatangan dari waktu ke waktu tanpa jeda
dan terus diperbaharui. Informasi silih berganti diperlihatkan, dituliskan, dan
diproduksi untuk dirujuk sebagai landasan data.
Kini kita berada di zaman Generasi Millenial,
di mana setiap individu dituntut untuk bergerak cepat. Sehingga informasi pun
dibuat dengan melihat akurasi, bukan akuratnya. Terlebih lagi teknologi yang
sudah semakin canggih, dan internet pun sudah menjadi kebutuhan primer bagi
setiap orang terutama anak muda.
Hal itu membuat dalam derasnya arus informasi kita didorong
untuk mengikuti logika kecepatan. Sehingga tindakan komunikasi yang kita
keluarkan menjadi kering akan makna. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah
berhasil masuk ke dalam aspek kesadaran manusia, seakan teknologilah yang
berbicara kepada penggunanya. Makna atau isi dari pesan bukanlah lagi menjadi
pusat perhatian.
Sebenarnya Nicholas Carr sudah pernah memperingatkan,
seperti yang pernah ditulis dalam bukunya yang berjudul The
Shallows, yaitu:
"Mereka yang biasa membaca dari link, hanya sedikit
paham daripada mereka yang membaca linear teks yang tradisional (seperti buku,
koran, dan hal-hal yang bersifat di-print); mereka yang terbuai dan
sibuk dengan pemberian informasi secara multimedia akan sedikit ingat daripada
mereka yang benar-benar berusaha terfokus akan informasi; mereka yang
terdistraksi melalui email, dan notifikasi di telepon selular akan memahami
sedikit daipada mereka yang benar-benar berkonsentrasi; juga mereka yang
mengaku bahwa bisa multitasking adalah orang yang kurang
kreatif dan kurang produktif daripada mereka yang melakukan satu hal di suatu
waktu."
Membludaknya data-data yang ditampilkan membuat pesan yang
disampaikan menjadi tidak dapat lagi dicerna dengan baik. Bertebaran berita
yang dimunculkan dan dalam waktu singkat menjadi kesulitan untuk memetik
maknanya.
Keadaan yang seperti inilah yang membuat pola komunikasi
masyarakat kini cenderung lebih ringan dalam mengekspos segala sesuatu. Segala
hal ingin dibicarakan tanpa terkecuali. Pepatah "diam itu emas"
seakan sudah tidak berlaku. Budaya berkomentar pun muncul, di mana membaca
semakin terkikis dengan data-data yang membanjiri.
Segelintir orang membaca, namun tidak
benar-benar memahami. Berkomentar tanpa tahu betul apa yang sebenarnya telah terjadi. Sayangnya orang-orang
hanya menggunakan satu perspektif untuk dapat berspekulasi, dan lupa untuk
memandang dari sisi yang lain.
Mudah terbawa oleh terpaan media sehingga
kita membutuhkan pandangan yang lebih luas. Tetapi semuanya menjadi sulit
kendati data-data yang terpampang sangat banyak. Beberapa data dianggap cukup
dan dipercayai bahwa yang terjadi benar adanya.
Setelah mempercayainya, mereka yang tidak
melek informasi ini akhirnya membagikan kembali informasi yang telah
didapatkannya. Hal itu pula yang memicu banyaknya berita-berita hoax yang
beredar.
Akibatnya, akan terjadi kesalah-pahaman
informasi yang diterima oleh masyarakat, karena data tersebut akan terus
menerus diterima. Untuk itu, sebaiknya kita lebih kritis dalam menyikapi kabar
atau berita yang menerpa kita, dengan cara:
1. Perhatikan
sumber berita.
Anda sebaiknya mengecek sumber dari
informasi yang didapatkan, apakah kredibel atau tidak. Bisa saja orang yang
tersebut hanya menyebarkan tanpa tahu pasti kejadian yang sebenarnya.
Baca seluruh isi, bukan hanya judul.
2. Judul bisa saja menjebak, dan tidak
akan bisa menggambarkan suatu informasi secara utuh. Bisa saja judulnya terlalu
heboh namun isinya tidak seperti apa yang di-interpretasi kan oleh pikiran kita
saat membaca bukunya.
3. Judul yang berlebihan patut dicurigai.
Berita yang sebenarnya biasa saja bisa
menjadi terkenal terkadang karena adanya judul yang menghebohkan. Karena memang
kini berada pada zaman clickbait, di mana judul yang heboh akan
menarik perhatian.
4. Tidak mudah percaya terhadap foto atau
video.
Canggihnya teknologi saat ini semakin
kreatif dan mudah untuk dimanipulasi. Jika menemukan berupa audio-visual yang
aneh maka harus dicari kembali sumbernya, dan ditelisik kembali apakah
informasi tersebut benar.
5. Jangan malas.
Disini dalam arti jangan malas untuk
membaca, dan mencari tahu lebih jauh akan informasi yang kita temui. Hal ini
bisa membuat kita lebih kritis dalam mengahadapi data dan kenyataan yang ada.





