Memandang lautan jernih dengan beratapkan langit biru yang menggoda. Atau pepohonan hijau yang menyegarkan mata, dibalut sejuknya semilir angin saat menatap matahari yang mulai masuk untuk menyinari bumi. Itulah angan-angan ku sedari dua tahun yang lalu. Dimana saya sangat ingin menikmatinya, dibalik hiruk-pikuk kota yang begitu-gitu saja.
Namun kini saya sudah tidak mau muluk-muluk. Dengan kesibukan magang, berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan, dan ribetnya persiapan Tugas Akhir membuat khayalan saya terkikis. Yang terbesit di pikiran hanyalah "tolong bawa pergi saya kemana pun, hanya keliling seputaran daerah kota tidak apa-apa asal bisa refreshing".
"Lo kurang piknik sih", merupakan kalimat yang sering disebutkan oleh teman-teman saya. Namun karena kata-kata itu akhirnya saya mengajak teman peer-group untuk liburan. Kemana pun deh, asal liburan. Karena terbilang sangat dadakan, saya hanya bisa merayu empat teman saya. Rasanya jika liburan ini gagal, saya ingin tetap nekat sendiri. Tapi, lebih enak kalau liburan dengan kebersamaan bukan?
Alarm handphone berusaha membangunkan kami. Menandakan sudah pukul tiga pagi, saatnya untuk bersiap-siap. Sebelum berangkat kami mulai hitung-hitungan soal uang. Berhubung kita dadakan, jadi uang pun juga harus se-hemat mungkin. Seperti biasa, lagi-lagi saya yang menyimpan jatah untuk hura-hura ngirit kali ini.
Mobil pun mulai dihidupkan, dan, waktunya liburan! Yeay! Oh iya, perjalanan kali ini kami memutuskan untuk ke Paris Van Java, alias Bandung. Tepatnya sih akan di daerah Lembang. Kami berangkat sekitar pukul 4.30, jadi langit masih gelap dan sepanjang perjalanan lancar jaya.
Sepanjang perjalanan panjang dari memasuki tol Cikampek kami hanya ngobrol dan bercanda, dengan maksud agar teman saya yang menyetir ga ngantuk. Kami sempat berbincang tentang kejadian Brexit yang memakan korban jiwa yang belum begitu lama terjadi saat libur Idul Fitri.
"Emang ada apa sih dengan tol Cipali?" celetuk salah satu teman saya bernama Arrum.
![]() | |
| Perjalanan saat di Tol Cikopo-Palimanan, Jawa Barat. |
Hanya selang waktu beberapa detik, tiba-tiba jalanan tol menjadi sepi dari yang tadinya lumayan padat. Canda tawa mendadak menjadi hening. Kami berada di jalanan panjang dengan dikanan maupun kiri tidak ada pemandangan rumah penduduk, apalagi mengharapkan adanya Rest Area. Yang ada hanyalah jalanan yang menurut kami agak gersang.
Disaat yang sama saat celetuk Arrum terlontar, sebenarnya saya melihat marga jalan yang salah satunya ada tulisan Cipali, namun tidak tahu kenapa saya hanya terdiam. Dan benar saja, kita memasuki tol Brexit yang baru saja kami jadikan salah satu candaan.
Lucunya, mobil yang penuh dengan gosip dari mulut lima cewek mendadak menjadi seperti pengajian, penuh dengan dzikir. Saya jadi bisa membayangkan, bagaimana tidak jatuh korban jiwa jika memang berjam-jam berkutat dengan gersang, panas, dan tidak adanya tempat makan maupun toilet di sepanjang jalan.
Tadinya sih mau ke Brebes aja, beli makanan yang menjadi andalannya yaitu Telur Asin. Toh perjalanan juga sudah jauh melewati tol Cipali. Tapi berhubung mau menginap di rumah pamannya Arrum, kami harus tetap berputar haluan ke Lembang.
Akhirnya sampai juga di kota kenang-kenangan yang bagi saya sudah jarang jumpa, seperti sepenggal lirik dari Halo-halo Bandung. Tempat pertama yang ingin kita datangi adalah kolam renang, tapi di hotel biar gaya. SanGria Resort & Spa pun jadi pilihan yang sangat tidak mengecewakan.
We found paradise in Lembang! Pemandangannya bagus banget. Saya bisa berenang sambil menikmati hamparan pepohonan hijau di depan mata. Tempatnya pun sangat private, jauh dari keramaian sehingga cocok sekali untuk yang ingin menyingkir sejenak dari dunia perkotaan. Terdapat pula saung bar di pojok kolam renang dan Jacuzzi.
Dengan Rp 75.000,- saya sudah bisa menikmati itu semua, dan mendapatkan makanan maupun minumannya. Sedangkan jika ingin spa bisa menambahkan sekitar Rp 50.000,-. Harga yang cukup worth it bagi saya dengan fasilitas yang didapatkan.
Abis renang kayak nya enak ya kalau minum susu. Berhubung saya dan beberapa teman saya penasaran Farmhouse seperti apa, jadi lah tempat rumah itu jadi destinasi selanjutnya. Perjalanan cukup padat dan menanjak saat kesana. Sesuai dengan perkiraan, tempat minum susu itu sangat ramai oleh pengunjung terutama anak-anak.
Saat ingin memasuki Farmhouse, kami harus membeli tiket dahulu seharga Rp 20.000,- per orang. Tiket tersebut bisa ditukarkan dengan susu sesuai dengan pilihan rasa yang ada salah satunya ada rasa cokelat. Awalnya saya merasa aneh, kenapa ada yang memakai baju ala "none Belanda". Ternyata disini disewakan juga loh baju-baju khas Belanda untuk menunjang foto pengunjung.
Di dalam Farmhouse sendiri banyak sekali tempat yang dijadikan spot foto, salah satunya adalah rumah The Hobbit yang menurut saya menjadi background foto ter-mainstream di explore Instagram. Terdapat pula kandang yang terbuat dari pagar-pagar kayu yang berisikan biri-biri, dan saya bisa berfoto bahkan memberi makan mereka.
Saya merasa agak salah memilih ke Farmhouse pada saat itu, karena semua spot foto dipenuhi oleh pengunjung. Bahkan saking ramainya, untuk berjalan pun lumayan tersendat. Maklum sih, saat itu lagi musim libur anak sekolahan.
Mood kami sepertinya agak berubah, mungkin karena mulai lelah dan kurang puas saat berada di Farmhouse. Jadi saya mulai mencari tempat yang enak untuk nongkrong santai. Dan saya pun merekomendasikan Lereng Anteng Panoramic, karena di Instagram review dan foto tempatnya terlihat menyenangkan.
Awalnya kami sempat ragu, karena saat perjalanan menuju Lereng Anteng dirasa cukup sulit. Jalanan yang berbatu, sempit, dan menanjak membuat Vero, teman saya yang menyetir menjadi sangat hati-hati. Saya pun was-was melewatinya, tapi untung dia sudah handal.
Akhirnya sampai juga di kota kenang-kenangan yang bagi saya sudah jarang jumpa, seperti sepenggal lirik dari Halo-halo Bandung. Tempat pertama yang ingin kita datangi adalah kolam renang, tapi di hotel biar gaya. SanGria Resort & Spa pun jadi pilihan yang sangat tidak mengecewakan.
![]() | |
| SanGria Resort & Spa, Lembang, Jawa Barat. |
Dengan Rp 75.000,- saya sudah bisa menikmati itu semua, dan mendapatkan makanan maupun minumannya. Sedangkan jika ingin spa bisa menambahkan sekitar Rp 50.000,-. Harga yang cukup worth it bagi saya dengan fasilitas yang didapatkan.
Abis renang kayak nya enak ya kalau minum susu. Berhubung saya dan beberapa teman saya penasaran Farmhouse seperti apa, jadi lah tempat rumah itu jadi destinasi selanjutnya. Perjalanan cukup padat dan menanjak saat kesana. Sesuai dengan perkiraan, tempat minum susu itu sangat ramai oleh pengunjung terutama anak-anak.
![]() |
| Farmhouse, Lembang, Jawa Barat. |
![]() |
| Kandang Biri-biri di Farmhouse |
Di dalam Farmhouse sendiri banyak sekali tempat yang dijadikan spot foto, salah satunya adalah rumah The Hobbit yang menurut saya menjadi background foto ter-mainstream di explore Instagram. Terdapat pula kandang yang terbuat dari pagar-pagar kayu yang berisikan biri-biri, dan saya bisa berfoto bahkan memberi makan mereka.
Saya merasa agak salah memilih ke Farmhouse pada saat itu, karena semua spot foto dipenuhi oleh pengunjung. Bahkan saking ramainya, untuk berjalan pun lumayan tersendat. Maklum sih, saat itu lagi musim libur anak sekolahan.
Mood kami sepertinya agak berubah, mungkin karena mulai lelah dan kurang puas saat berada di Farmhouse. Jadi saya mulai mencari tempat yang enak untuk nongkrong santai. Dan saya pun merekomendasikan Lereng Anteng Panoramic, karena di Instagram review dan foto tempatnya terlihat menyenangkan.
![]() |
| Lereng Anteng Panoramic, Lembang, Jawa Barat |
![]() |
| Sumber: instagram.com/lerenganteng/ |
Bagai peribahasa 'berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian'. Walaupun perjalanan menuju tempat itu sulit, tetapi terbayarkan sudah oleh pemandangan yang disuguhkan. Saya seperti bisa melihat seluruh kota Bandung dari atas sini! Namanya juga di lereng bukit.
Tempatnya juga terbilang lucu dan nyaman untuk bersantai menikmati kopi atau pun bandrek susu. Saya dan teman-teman memilih untuk duduk di atas, dengan sofa empuk seperti bantal. Kalau dibawah sebenarnya juga enak, jadi kayak di dalam tenda bening gitu. Tapi pada saat itu entah kenapa terlihat belum dibersihkan lagi oleh disana.
Disana juga terdapat area bermain untuk anak-anak, seperti ayunan dan semacamnya. Untuk soal harga, makanan disini terbilang cukup terjangkau kisaran Rp 5.000,- hingga Rp 30.000,- dengan makan dan minuman yang bervariasi.
Matahari perlahan turun digantikan oleh sinar-sinar dari lampu perkotaan, dan bintang-bintang yang tempak jelas dilangit saat itu. Meneguk secangkir kopi di Lereng Anteng menutup liburan saya pada hari itu. Saya sangat menikmati semilir angin sambil memandang lampu-lampu kota, yang sudah dua tahun terakhir jarang saya jumpai.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar