Selasa, 17 Januari 2017

Budaya Bicara Di Balik Banjirnya Data

Tidak dapat dipungkiri jika setiap hari kita dibanjiri olah berbagai data. Informasi baru selalu berdatangan dari waktu ke waktu tanpa jeda dan terus diperbaharui. Informasi silih berganti diperlihatkan, dituliskan, dan diproduksi untuk dirujuk sebagai landasan data.

Kini kita berada di zaman Generasi Millenial, di mana setiap individu dituntut untuk bergerak cepat. Sehingga informasi pun dibuat dengan melihat akurasi, bukan akuratnya. Terlebih lagi teknologi yang sudah semakin canggih, dan internet pun sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang terutama anak muda.

Hal itu membuat dalam derasnya arus informasi kita didorong untuk mengikuti logika kecepatan. Sehingga tindakan komunikasi yang kita keluarkan menjadi kering akan makna. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah berhasil masuk ke dalam aspek kesadaran manusia, seakan teknologilah yang berbicara kepada penggunanya. Makna atau isi dari pesan bukanlah lagi menjadi pusat perhatian.

Sebenarnya Nicholas Carr sudah pernah memperingatkan, seperti yang pernah ditulis dalam bukunya yang berjudul The Shallows, yaitu: 

"Mereka yang biasa membaca dari link, hanya sedikit paham daripada mereka yang membaca linear teks yang tradisional (seperti buku, koran, dan hal-hal yang bersifat di-print); mereka yang terbuai dan sibuk dengan pemberian informasi secara multimedia akan sedikit ingat daripada mereka yang benar-benar berusaha terfokus akan informasi; mereka yang terdistraksi melalui email, dan notifikasi di telepon selular akan memahami sedikit daipada mereka yang benar-benar berkonsentrasi; juga mereka yang mengaku bahwa bisa multitasking adalah orang yang kurang kreatif dan kurang produktif daripada mereka yang melakukan satu hal di suatu waktu."

Membludaknya data-data yang ditampilkan membuat pesan yang disampaikan menjadi tidak dapat lagi dicerna dengan baik. Bertebaran berita yang dimunculkan dan dalam waktu singkat menjadi kesulitan untuk memetik maknanya. 

Keadaan yang seperti inilah yang membuat pola komunikasi masyarakat kini cenderung lebih ringan dalam mengekspos segala sesuatu. Segala hal ingin dibicarakan tanpa terkecuali. Pepatah "diam itu emas" seakan sudah tidak berlaku. Budaya berkomentar pun muncul, di mana membaca semakin terkikis dengan data-data yang membanjiri. 

Segelintir orang membaca, namun tidak benar-benar memahami. Berkomentar tanpa tahu betul apa yang sebenarnya telah terjadi. Sayangnya orang-orang hanya menggunakan satu perspektif untuk dapat berspekulasi, dan lupa untuk memandang dari sisi yang lain.

Mudah terbawa oleh terpaan media sehingga kita membutuhkan pandangan yang lebih luas. Tetapi semuanya menjadi sulit kendati data-data yang terpampang sangat banyak. Beberapa data dianggap cukup dan dipercayai bahwa yang terjadi benar adanya.

Setelah mempercayainya, mereka yang tidak melek informasi ini akhirnya membagikan kembali informasi yang telah didapatkannya. Hal itu pula yang memicu banyaknya berita-berita hoax yang beredar. 

Akibatnya, akan terjadi kesalah-pahaman informasi yang diterima oleh masyarakat, karena data tersebut akan terus menerus diterima. Untuk itu, sebaiknya kita lebih kritis dalam menyikapi kabar atau berita yang menerpa kita, dengan cara:

1. Perhatikan sumber berita.
Anda sebaiknya mengecek sumber dari informasi yang didapatkan, apakah kredibel atau tidak. Bisa saja orang yang tersebut hanya menyebarkan tanpa tahu pasti kejadian yang sebenarnya.
Baca seluruh isi, bukan hanya judul.

2. Judul bisa saja menjebak, dan tidak akan bisa menggambarkan suatu informasi secara utuh. Bisa saja judulnya terlalu heboh namun isinya tidak seperti apa yang di-interpretasi kan oleh pikiran kita saat membaca bukunya.

3. Judul yang berlebihan patut dicurigai.
Berita yang sebenarnya biasa saja bisa menjadi terkenal terkadang karena adanya judul yang menghebohkan. Karena memang kini berada pada zaman clickbait, di mana judul yang heboh akan menarik perhatian.

4. Tidak mudah percaya terhadap foto atau video.
Canggihnya teknologi saat ini semakin kreatif dan mudah untuk dimanipulasi. Jika menemukan berupa audio-visual yang aneh maka harus dicari kembali sumbernya, dan ditelisik kembali apakah informasi tersebut benar.

5. Jangan malas.
Disini dalam arti jangan malas untuk membaca, dan mencari tahu lebih jauh akan informasi yang kita temui. Hal ini bisa membuat kita lebih kritis dalam mengahadapi data dan kenyataan yang ada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar