Bentuk kejahatan dengan konteks kasus kekerasan seksual, terutama
Paedofil yang ada dalam film Spotlight ini cukup relevan dengan beberapa kasus
yang ada di Indonesia. Disaat banyak permasalahan krusian yang tidak hanya
mengenai kekerasan seksual, melainkan juga masalah keamanan dan keselamatan
masyarakat yang justru ditutup-tutupi dan dibiarkan begitu saja. Hal ini tentu berimbas pada semakin mengerikannya masa depan dengan adanya suatu ancaman yang serius, yaitu traumatis bagi generasi dunia.
Diangkat dari kisah nyata, dimana Marty Baron, sang editor dari The Boston Globe memberikan tugas kepada tim jurnalis investigasi untuk melakukan investigasi terhadap kasus John Geoghan. Geoghan yang merupakan seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 87 anak. Dengan berlatar tahun 2001, tim Spotlight yang beranggotakan Walter Robby (Michael Keaton), dengan reporter Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carol (Brian d’Arcy James), serta Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) berusaha keras mendapatkan informasi dengan jangka waktu yang panjang.
Mereka ditugaskan dengan job desc-nya masing-masing. Rezendez bertugas untuk mendapatkan data-data dari pengacara pihak korban, Sacha bertugas untuk mencari dan mewawancarai para korban, sedangkan Carol berusaha mendapatkan dokumen dan arsip-arsip lama sebagai bukti. Tim ini pada akhirnya menemukan fakta mengejutkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak kecil ini terjadi sangat masif dan melibatkan sistem Gereja Katholik global.
Dalam film ini juga mengajarkan kita bahwa sebagai jurnalis harus melakukan pendekatan yang baik terhadap narasumber yang relevan. Tidak hanya cukup melakukan riseet, melainkan juga harus pandai membangun relasi dengan semua kalangan. Contohnya seperti ikut makan malam, bermain golf, hingga bertamu ke rumah narasumber. Hal ini dapat mempermudah tim Spotlight dalam mendapatkan informasi.
Mengungkap kebenaran dalam kasus pelecehan seksual ini tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Mengungkap kebenaran dalam kasus pelecehan seksual ini tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sementara itu, salah satu kutipan paling membuat bergidik adalah
ketika ada salah satu karakter berujar bahwa anak-anak yang hidup dan
berkembang di lingkungan keluarga miskin–atau keluarga yang bermasalah,
misal tidak harmonis atau orangtua bercerai–, lebih condong menjadikan
lingkungan agama sebagai pelarian. Apabila konteksnya di film ini adalah
gereja Katholik, ketika anak-anak itu dekat dengan pendeta, mereka
merasa mendapatkan pertolongan Tuhan. Sebagian orang memanfaatkan itu
untuk memenuhi hasrat seksual. Akibatnya, sekeji apa pun kejahatannya,
karena berkedok agama, tidak ada yang berani mengungkapkannya,
bertahun-tahun. Kejahatan seksual terhadap anak-anak itu bahkan disebut
tidak hanya physical abuse, namun juga spiritual abuse. Mereka yang
menjadi korban merasa seperti terjebak di sebuah sistem yang salah, tapi
tidak bisa berbuat banyak.
Ada satu momen ketika Sacha (Rachel McAdams) mencoba menghubungi
salah satu pendeta yang masuk dalam daftar tersangka. Ketika bertemu
langsung, dengan muka pasrah pendeta itu mengakui perbuatannya. Namun
dia melakukan tindakan itu karena dulunya dia juga pernah menjadi
korban. Sacha tidak bisa melanjutkan wawancaranya karena langsung diusir
oleh wanita yang juga tinggal di rumah itu. Setelahnya, Spotlight
menyajikan salah scene paling heartbreaking. Sacha berdiri terpaku di
pinggir jalan, masih syok, tiba-tiba diperlihatkan ada sekumpulan anak
yang sedang bersepeda dengan riang gembira. Mata saya basah ketika
menyaksikan adegan ini.
Untuk film dengan nilai sempurna, saya akan selalu menutupnya dengan
ucapan terima kasih, begitu pula dengan Spotlight. Terima kasih kepada
para aktor dan aktris yang telah menunjukkan sebuah performa brilian,
terutama Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, serta Brian
d’Arcy James. Terima kasih kepada Tom McCarthy sebagai sutradara
sekaligus penulis naskah–bersama Josh Singer–yang telah menyajikan
jalinan sequence yang tidak henti-hentinya memberikan efek merinding.
Terima kasih telah menutup Spotlight dengan sangat
menggetarkan–menunjukkan momen victims voice–hingga membuat saya kembali
menangis. Dan terima kasih kepada tim Spotlight yang sesungguhnya, yang
telah menampar dunia, mengingatkan supaya jurnalistik tetap semurni itu
tujuannya. Terima kasih.
Jangan pernah tunduk pada pemufakatan jahat, jangan takut untuk
menguak hal tabu. Jika ada tindakan jahat dan sistemik yang diduga
terjadi, medialah yang harus menjadi pencerahnya. Bukan ikut bersembunyi
di balik tirai kepentingan golongan pelaku kejahatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar