Sabtu, 08 April 2017

Spotlight (2015): Ketika Media Bongkar Kejahatan



Bentuk kejahatan dengan konteks kasus kekerasan seksual, terutama Paedofil yang ada dalam film Spotlight ini cukup relevan dengan beberapa kasus yang ada di Indonesia. Disaat banyak permasalahan krusian yang tidak hanya mengenai kekerasan seksual, melainkan juga masalah keamanan dan keselamatan masyarakat yang justru ditutup-tutupi dan dibiarkan begitu saja. Hal ini tentu berimbas pada semakin mengerikannya masa depan dengan adanya suatu ancaman yang serius, yaitu traumatis bagi generasi dunia.

Diangkat dari kisah nyata, dimana Marty Baron, sang editor dari The Boston Globe memberikan tugas kepada tim jurnalis investigasi untuk melakukan investigasi terhadap kasus John Geoghan. Geoghan yang merupakan seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 87 anak. Dengan berlatar tahun 2001, tim Spotlight yang beranggotakan Walter Robby (Michael Keaton), dengan reporter Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carol (Brian d’Arcy James), serta Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) berusaha keras mendapatkan informasi dengan jangka waktu yang panjang.

Mereka ditugaskan dengan job desc-nya masing-masing. Rezendez bertugas untuk mendapatkan data-data dari pengacara pihak korban, Sacha bertugas untuk mencari dan mewawancarai para korban, sedangkan Carol berusaha mendapatkan dokumen dan arsip-arsip lama sebagai bukti. Tim ini pada akhirnya menemukan fakta mengejutkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak kecil ini terjadi sangat masif dan melibatkan sistem Gereja Katholik global.

Dalam film ini juga mengajarkan kita bahwa sebagai jurnalis harus melakukan pendekatan yang baik terhadap narasumber yang relevan. Tidak hanya cukup melakukan riseet, melainkan juga harus pandai membangun relasi dengan semua kalangan. Contohnya seperti ikut makan malam, bermain golf, hingga bertamu ke rumah narasumber. Hal ini dapat mempermudah tim Spotlight dalam mendapatkan informasi.

Mengungkap kebenaran dalam kasus pelecehan seksual ini tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sementara itu, salah satu kutipan paling membuat bergidik adalah ketika ada salah satu karakter berujar bahwa anak-anak yang hidup dan berkembang di lingkungan keluarga miskin–atau keluarga yang bermasalah, misal tidak harmonis atau orangtua bercerai–, lebih condong menjadikan lingkungan agama sebagai pelarian. Apabila konteksnya di film ini adalah gereja Katholik, ketika anak-anak itu dekat dengan pendeta, mereka merasa mendapatkan pertolongan Tuhan. Sebagian orang memanfaatkan itu untuk memenuhi hasrat seksual. Akibatnya, sekeji apa pun kejahatannya, karena berkedok agama, tidak ada yang berani mengungkapkannya, bertahun-tahun. Kejahatan seksual terhadap anak-anak itu bahkan disebut tidak hanya physical abuse, namun juga spiritual abuse. Mereka yang menjadi korban merasa seperti terjebak di sebuah sistem yang salah, tapi tidak bisa berbuat banyak.

Ada satu momen ketika Sacha (Rachel McAdams) mencoba menghubungi salah satu pendeta yang masuk dalam daftar tersangka. Ketika bertemu langsung, dengan muka pasrah pendeta itu mengakui perbuatannya. Namun dia melakukan tindakan itu karena dulunya dia juga pernah menjadi korban. Sacha tidak bisa melanjutkan wawancaranya karena langsung diusir oleh wanita yang juga tinggal di rumah itu. Setelahnya, Spotlight menyajikan salah scene paling heartbreaking. Sacha berdiri terpaku di pinggir jalan, masih syok, tiba-tiba diperlihatkan ada sekumpulan anak yang sedang bersepeda dengan riang gembira. Mata saya basah ketika menyaksikan adegan ini.



Untuk film dengan nilai sempurna, saya akan selalu menutupnya dengan ucapan terima kasih, begitu pula dengan Spotlight. Terima kasih kepada para aktor dan aktris yang telah menunjukkan sebuah performa brilian, terutama Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, serta Brian d’Arcy James. Terima kasih kepada Tom McCarthy sebagai sutradara sekaligus penulis naskah–bersama Josh Singer–yang telah menyajikan jalinan sequence yang tidak henti-hentinya memberikan efek merinding. Terima kasih telah menutup Spotlight dengan sangat menggetarkan–menunjukkan momen victims voice–hingga membuat saya kembali menangis. Dan terima kasih kepada tim Spotlight yang sesungguhnya, yang telah menampar dunia, mengingatkan supaya jurnalistik tetap semurni itu tujuannya. Terima kasih.

Jangan pernah tunduk pada pemufakatan jahat, jangan takut untuk menguak hal tabu. Jika ada tindakan jahat dan sistemik yang diduga terjadi, medialah yang harus menjadi pencerahnya. Bukan ikut bersembunyi di balik tirai kepentingan golongan pelaku kejahatan.

Selasa, 17 Januari 2017

Budaya Bicara Di Balik Banjirnya Data

Tidak dapat dipungkiri jika setiap hari kita dibanjiri olah berbagai data. Informasi baru selalu berdatangan dari waktu ke waktu tanpa jeda dan terus diperbaharui. Informasi silih berganti diperlihatkan, dituliskan, dan diproduksi untuk dirujuk sebagai landasan data.

Kini kita berada di zaman Generasi Millenial, di mana setiap individu dituntut untuk bergerak cepat. Sehingga informasi pun dibuat dengan melihat akurasi, bukan akuratnya. Terlebih lagi teknologi yang sudah semakin canggih, dan internet pun sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang terutama anak muda.

Hal itu membuat dalam derasnya arus informasi kita didorong untuk mengikuti logika kecepatan. Sehingga tindakan komunikasi yang kita keluarkan menjadi kering akan makna. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah berhasil masuk ke dalam aspek kesadaran manusia, seakan teknologilah yang berbicara kepada penggunanya. Makna atau isi dari pesan bukanlah lagi menjadi pusat perhatian.

Sebenarnya Nicholas Carr sudah pernah memperingatkan, seperti yang pernah ditulis dalam bukunya yang berjudul The Shallows, yaitu: 

"Mereka yang biasa membaca dari link, hanya sedikit paham daripada mereka yang membaca linear teks yang tradisional (seperti buku, koran, dan hal-hal yang bersifat di-print); mereka yang terbuai dan sibuk dengan pemberian informasi secara multimedia akan sedikit ingat daripada mereka yang benar-benar berusaha terfokus akan informasi; mereka yang terdistraksi melalui email, dan notifikasi di telepon selular akan memahami sedikit daipada mereka yang benar-benar berkonsentrasi; juga mereka yang mengaku bahwa bisa multitasking adalah orang yang kurang kreatif dan kurang produktif daripada mereka yang melakukan satu hal di suatu waktu."

Membludaknya data-data yang ditampilkan membuat pesan yang disampaikan menjadi tidak dapat lagi dicerna dengan baik. Bertebaran berita yang dimunculkan dan dalam waktu singkat menjadi kesulitan untuk memetik maknanya. 

Keadaan yang seperti inilah yang membuat pola komunikasi masyarakat kini cenderung lebih ringan dalam mengekspos segala sesuatu. Segala hal ingin dibicarakan tanpa terkecuali. Pepatah "diam itu emas" seakan sudah tidak berlaku. Budaya berkomentar pun muncul, di mana membaca semakin terkikis dengan data-data yang membanjiri. 

Segelintir orang membaca, namun tidak benar-benar memahami. Berkomentar tanpa tahu betul apa yang sebenarnya telah terjadi. Sayangnya orang-orang hanya menggunakan satu perspektif untuk dapat berspekulasi, dan lupa untuk memandang dari sisi yang lain.

Mudah terbawa oleh terpaan media sehingga kita membutuhkan pandangan yang lebih luas. Tetapi semuanya menjadi sulit kendati data-data yang terpampang sangat banyak. Beberapa data dianggap cukup dan dipercayai bahwa yang terjadi benar adanya.

Setelah mempercayainya, mereka yang tidak melek informasi ini akhirnya membagikan kembali informasi yang telah didapatkannya. Hal itu pula yang memicu banyaknya berita-berita hoax yang beredar. 

Akibatnya, akan terjadi kesalah-pahaman informasi yang diterima oleh masyarakat, karena data tersebut akan terus menerus diterima. Untuk itu, sebaiknya kita lebih kritis dalam menyikapi kabar atau berita yang menerpa kita, dengan cara:

1. Perhatikan sumber berita.
Anda sebaiknya mengecek sumber dari informasi yang didapatkan, apakah kredibel atau tidak. Bisa saja orang yang tersebut hanya menyebarkan tanpa tahu pasti kejadian yang sebenarnya.
Baca seluruh isi, bukan hanya judul.

2. Judul bisa saja menjebak, dan tidak akan bisa menggambarkan suatu informasi secara utuh. Bisa saja judulnya terlalu heboh namun isinya tidak seperti apa yang di-interpretasi kan oleh pikiran kita saat membaca bukunya.

3. Judul yang berlebihan patut dicurigai.
Berita yang sebenarnya biasa saja bisa menjadi terkenal terkadang karena adanya judul yang menghebohkan. Karena memang kini berada pada zaman clickbait, di mana judul yang heboh akan menarik perhatian.

4. Tidak mudah percaya terhadap foto atau video.
Canggihnya teknologi saat ini semakin kreatif dan mudah untuk dimanipulasi. Jika menemukan berupa audio-visual yang aneh maka harus dicari kembali sumbernya, dan ditelisik kembali apakah informasi tersebut benar.

5. Jangan malas.
Disini dalam arti jangan malas untuk membaca, dan mencari tahu lebih jauh akan informasi yang kita temui. Hal ini bisa membuat kita lebih kritis dalam mengahadapi data dan kenyataan yang ada.


Selasa, 10 Januari 2017

Lembang Sejenak

Memandang lautan jernih dengan beratapkan langit biru yang menggoda. Atau pepohonan hijau yang menyegarkan mata, dibalut sejuknya semilir angin saat menatap matahari yang mulai masuk untuk menyinari bumi. Itulah angan-angan ku sedari dua tahun yang lalu. Dimana saya sangat ingin menikmatinya, dibalik hiruk-pikuk kota yang begitu-gitu saja.

Namun kini saya sudah tidak mau muluk-muluk. Dengan kesibukan magang, berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan, dan ribetnya persiapan Tugas Akhir membuat khayalan saya terkikis. Yang terbesit di pikiran hanyalah "tolong bawa pergi saya kemana pun, hanya keliling seputaran daerah kota tidak apa-apa asal bisa refreshing".

"Lo kurang piknik sih", merupakan kalimat yang sering disebutkan oleh teman-teman saya. Namun karena kata-kata itu akhirnya saya mengajak teman peer-group untuk liburan. Kemana pun deh, asal liburan. Karena terbilang sangat dadakan, saya hanya bisa merayu empat teman saya. Rasanya jika liburan ini gagal, saya ingin tetap nekat sendiri. Tapi, lebih enak kalau liburan dengan kebersamaan bukan?

Alarm handphone berusaha membangunkan kami. Menandakan sudah pukul tiga pagi, saatnya untuk bersiap-siap. Sebelum berangkat kami mulai hitung-hitungan soal uang. Berhubung kita dadakan, jadi uang pun juga harus se-hemat mungkin. Seperti biasa, lagi-lagi saya yang menyimpan jatah untuk hura-hura ngirit kali ini.

Mobil pun mulai dihidupkan, dan, waktunya liburan! Yeay! Oh iya, perjalanan kali ini kami memutuskan untuk ke Paris Van Java, alias Bandung. Tepatnya sih akan di daerah Lembang. Kami berangkat sekitar pukul 4.30, jadi langit masih gelap dan sepanjang perjalanan lancar jaya. 

Sepanjang perjalanan panjang dari memasuki tol Cikampek kami hanya ngobrol dan bercanda, dengan maksud agar teman saya yang menyetir ga ngantuk. Kami sempat berbincang tentang kejadian Brexit yang memakan korban jiwa yang belum begitu lama terjadi saat libur Idul Fitri. 

"Emang ada apa sih dengan tol Cipali?" celetuk salah satu teman saya bernama Arrum.

Perjalanan saat di Tol Cikopo-Palimanan, Jawa Barat.
Hanya selang waktu beberapa detik, tiba-tiba jalanan tol menjadi sepi dari yang tadinya lumayan padat. Canda tawa mendadak menjadi hening. Kami berada di jalanan panjang dengan dikanan maupun kiri tidak ada pemandangan rumah penduduk, apalagi mengharapkan adanya Rest Area. Yang ada hanyalah jalanan yang menurut kami agak gersang.

Disaat yang sama saat celetuk Arrum terlontar, sebenarnya saya melihat marga jalan yang salah satunya ada tulisan Cipali, namun tidak tahu kenapa saya hanya terdiam. Dan benar saja, kita memasuki tol Brexit yang baru saja kami jadikan salah satu candaan.

Lucunya, mobil yang penuh dengan gosip dari mulut lima cewek mendadak menjadi seperti pengajian, penuh dengan dzikir. Saya jadi bisa membayangkan, bagaimana tidak jatuh korban jiwa jika memang berjam-jam berkutat dengan gersang, panas, dan tidak adanya tempat makan maupun toilet di sepanjang jalan.

Tadinya sih mau ke Brebes aja, beli makanan yang menjadi andalannya yaitu Telur Asin. Toh perjalanan juga sudah jauh melewati tol Cipali. Tapi berhubung mau menginap di rumah pamannya Arrum, kami harus tetap berputar haluan ke Lembang.

Akhirnya sampai juga di kota kenang-kenangan yang bagi saya sudah jarang jumpa, seperti sepenggal lirik dari Halo-halo Bandung. Tempat pertama yang ingin kita datangi adalah kolam renang, tapi di hotel biar gaya. SanGria Resort & Spa pun jadi pilihan yang sangat tidak mengecewakan.

SanGria Resort & Spa, Lembang, Jawa Barat.
We found paradise in Lembang! Pemandangannya bagus banget. Saya bisa berenang sambil menikmati hamparan pepohonan hijau di depan mata. Tempatnya pun sangat private, jauh dari keramaian sehingga cocok sekali untuk yang ingin menyingkir sejenak dari dunia perkotaan. Terdapat pula saung bar di pojok kolam renang dan  Jacuzzi.

Dengan Rp 75.000,- saya sudah bisa menikmati itu semua, dan mendapatkan makanan maupun minumannya. Sedangkan jika ingin spa bisa menambahkan sekitar Rp 50.000,-. Harga yang cukup worth it bagi saya dengan fasilitas yang didapatkan.

Abis renang kayak nya enak ya kalau minum susu. Berhubung saya dan beberapa teman saya penasaran Farmhouse seperti apa, jadi lah tempat rumah itu jadi destinasi selanjutnya. Perjalanan cukup padat dan menanjak saat kesana. Sesuai dengan perkiraan, tempat minum susu itu sangat ramai oleh pengunjung terutama anak-anak.

Farmhouse, Lembang, Jawa Barat.
Kandang Biri-biri di Farmhouse
Saat ingin memasuki Farmhouse, kami harus membeli tiket dahulu seharga Rp 20.000,- per orang. Tiket tersebut bisa ditukarkan dengan susu sesuai dengan pilihan rasa yang ada salah satunya ada rasa cokelat. Awalnya saya merasa aneh, kenapa ada yang memakai baju ala "none Belanda". Ternyata disini disewakan juga loh baju-baju khas Belanda untuk menunjang foto pengunjung.

Di dalam Farmhouse sendiri banyak sekali tempat yang dijadikan spot foto, salah satunya adalah rumah The Hobbit yang menurut saya menjadi background foto ter-mainstream di explore Instagram. Terdapat pula kandang yang terbuat dari pagar-pagar kayu yang berisikan biri-biri, dan saya bisa berfoto bahkan memberi makan mereka.

Saya merasa agak salah memilih ke Farmhouse pada saat itu, karena semua spot foto dipenuhi oleh pengunjung. Bahkan saking ramainya, untuk berjalan pun lumayan tersendat. Maklum sih, saat itu lagi musim libur anak sekolahan.

Mood kami sepertinya agak berubah, mungkin karena mulai lelah dan kurang puas saat berada di Farmhouse. Jadi saya mulai mencari tempat yang enak untuk nongkrong santai. Dan saya pun merekomendasikan Lereng Anteng Panoramic, karena di Instagram review dan foto tempatnya terlihat menyenangkan.


Lereng Anteng Panoramic, Lembang, Jawa Barat
Sumber: instagram.com/lerenganteng/
Awalnya kami sempat ragu, karena saat perjalanan menuju Lereng Anteng dirasa cukup sulit. Jalanan yang berbatu, sempit, dan menanjak membuat Vero, teman saya yang menyetir menjadi sangat hati-hati. Saya pun was-was melewatinya, tapi untung dia sudah handal.

Bagai peribahasa 'berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian'. Walaupun perjalanan menuju tempat itu sulit, tetapi terbayarkan sudah oleh pemandangan yang disuguhkan. Saya seperti bisa melihat seluruh kota Bandung dari atas sini! Namanya juga di lereng bukit.

Tempatnya juga terbilang lucu dan nyaman untuk bersantai menikmati kopi atau pun bandrek susu. Saya dan teman-teman memilih untuk duduk di atas, dengan sofa empuk seperti bantal. Kalau dibawah sebenarnya juga enak, jadi kayak di dalam tenda bening gitu. Tapi pada saat itu entah kenapa terlihat belum dibersihkan lagi oleh disana.

Disana juga terdapat area bermain untuk anak-anak, seperti ayunan dan semacamnya. Untuk soal harga, makanan disini terbilang cukup terjangkau kisaran Rp 5.000,- hingga Rp 30.000,- dengan makan dan minuman yang bervariasi.

Matahari perlahan turun digantikan oleh sinar-sinar dari lampu perkotaan, dan bintang-bintang yang tempak jelas dilangit saat itu. Meneguk secangkir kopi di Lereng Anteng menutup liburan saya pada hari itu. Saya sangat menikmati semilir angin sambil memandang lampu-lampu kota, yang sudah dua tahun terakhir jarang saya jumpai.

Selasa, 27 Desember 2016

Mr. Master


Sumber: suaramahasiswa.com

Seorang anak yang lahir dari keluarga mampu, namun menjadi  anak jalanan yang nakal menjadikan ia seorang Bapak Pendiri Sekolah Master.  Lahir dari emperan masjid belakang terminal Depok, Nur Rohim membangun impian anak-anak Marginal. Dengan latar belakang muridnya yang tidak jelas, yaitu pengamen, pencopet, gelandangan, bahkan orang gila pun diterimanya dengan senang hati di sekolah ini.

Berawal dari keprihatinan, dimana banyaknya Perguruan Tinggi nan megah terdapat di Kota Depok. Namun untuk beberapa orang masih dirasa jauh untuk dapat mengakses layanan pendidikan. Rohim juga merasa ada tidak selarasnya salah satu visi misi kota Depok, yaitu kota Pendidikan.

“Kalau nungguin pemerintah harus sampai kapan anak-anak ini bisa mendapatkan,” ujar Nur Rohim.

Sebenarnya Rohim tidak sedang menyalahkan pemangku kekuasaan di daerahnya, Depok, Jawa Barat. Namun ia rasa memang ada yang harus dibenahi dan dipikirkan. Menurutnya ini adalah korban sistem kebijakan dan ketidak-berdayaan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasar.

“Kita kan melayani yang tidak terlayani, menjangkau yang tidak terjangkau. Jadi kita intinya bagaimana memberikan kesempatan buat masyarakat marginal untuk meraih harapan dan impiannya,” jawab Nur Rohim dengan lantang.

Saat ini, Sekolah Master memiliki lahan sekitar 4000 meter persegi, dimana tempat tersebut dianggap strategis karena di himpit oleh Terminal Depok, Stasiun Depok Baru, dan beberapa Mall. Di tengah keriuhan aktivitas inilah, Romusa, panggilan buatan Rohim yang artinya Rombongan Muka Susah ini mencoba meraih impiannya untuk perubahan hidup mereka.

Pria kelahiran Juli 45 tahun silam ini tidak peduli walau lahan Sekolah Master tersebut tidak memiliki izin dan sempat ingin digusur. Ia berpegang teguh pada UUD 1945, Pancasila, dan semua kitab suci agama yang menyarankan bahwa orang itu harus pintar dan harus mendapatkan pendidikan. Angkot yang sedang mengetem di Terminal pun dahulu pernah dijadikan tempat belajar bagi murid Master.

“Mau di halte, bawah pohon, mau di empang, jadi semua. Yang penting orang itu berubah karakternya,” katanya.

Sumber: sekolahmaster.org

Walaupun dengan tempat yang terbilang sederhana, bangunan semi permanen dan beberapa container warna-warni yang dijadikan kelas menjadi saksi sekitar 2000 anak-anak berusaha untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Tidak ada biaya yang membebani untuk dapat belajar disini.

Sesuai dengan lahirnya Sekolah Master pada tanggal 28 Oktober 2000, semangat sumpah pemuda juga dikobarkan oleh Nur Rohim dan teman-teman remaja masjid yang ikut merintis rumah kedua bagi para Romusa ini. Walaupun sempat tidak diberi restu oleh sang istri, ia berusaha untuk meyakinkannya.

Lima tahun awal adalah awal yang cukup berat bagi Rohim untuk mweujudkan harapan dan impian. Adanya keterbatasan dari sisi finansial dan keilmuan, hingga akhirnya berusaha untuk menggandeng semua pihak.

Bahkan ia masih mendanai sendiri Master saat itu. Untuk dia, modalnya adalah DUIT. DUIT disini maksudnya adalah Doa, Usaha, Iman, dan Tawakal. Rohim yakin setiap kebaikan itu pasti akan menjadi kekuatan energy positif dan menjadi berkah.

Baginya, jadilah orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan niscaya kita akan menemukan kebahagiaan. Itulah yang ditanamkan oleh panutannya, yaitu kakeknya sendiri. Pada dasarnya semua anak itu baik. Secara fitrah anak-anak tersebut butuh perhatian dan kasih sayang. Tidak hanya itu, mereka juga butuh ruang ekspresi dan perlindungan.

“Apa mereka masih mau hidup di jalan terus sampai tua? Kan semua juga ingin berubah, namun siapa yang memfasilitasi perubahan itu?” jelasmya.

Melakukan pendekatan dengan anak jalanan dilakukan bapak asal Tegal ini dengan penuh kasih. Warungnya iya jadikan tempat tongkrongan untuk melepas lelah setelah mereka mengamen. Jika bertemu anak-anak, selalu di ajak makan.

Kalau anak-anak gitu lapar galak kenyang bloon tuh. Kalau ketemu anak jalanan tanya dek sini, heh udah pada makan belum?,” ujarnya sambil melambaikan tangan.

Pendekatannya cukup sederhana, Nur Rohim harus masuk ke dalam dunia mereka. Ia harus sabar dan menjadi teman dengan mendengarkan keluh kesah anak-anak itu. Dengan itu, kita bisa mengetahui dan mengerti dunia mereka seperti apa, yang rata-rata di intimidasi dan di eksploitasi oleh predator-predator sekitar mereka.

Nur Rohim juga membuat sebuah koperasi, karena ia kerap dititipkan sejumlah uang hasil dari jualan atau mengamen hari itu. Akibat hal ini, Rohim sempat dituding oleh pihak kepolisian yang menganggap ia mendapatkan “uang jago” atau setoran dari anak-anak jalanan. Untuk menghindari kesalah-pahaman akhirnya dibuatlah sebuah koperasi, agar anak-anak bisa menyimpan uangnya dengan aman.

Kalau dia taro trus dia tidur dimana-mana ujung-ujungnya hilang. Akhirnya saya bikin koperasi, saya dituduh begitu,” ucap Rohim sambil tertawa.

Berangkat dari kehidupan masa kecilnya dari keluarga yang berkecukupan, namun orang tuanya harus memutuskan untuk bercerai. Dirasa kurang akan kasih sayang, Nur Rohim menghabiskan masa kecilnya di Terminal Tanah Abang. Rohim kecil hidup bersama teman-temannya yang kebanyakan adalah anak jalanan. Dari sanalah ia memiliki pandangan yang berbeda tentang stigma masyarakat mengenai anak-anak marginal.

Pria berkacamata ini pernah merasakan saat-saat ia ingin berhenti untuk membangun sekolah Master. Sempat merasa egois dimana dia hanya ingin mencari materi. Apalagi dahulu ia sering dicibir dan dianggap orang aneh, karena mengumpulkan yang orang yang tidak jelas latar belakangnya. Namun hanya satu yang terbesit di pikiran Rohim.

“Ketika mereka punya harapan dan impian, kita ga tega buat menyia-nyiakan harapan mereka,” ujar Rohim dengan air muka yang mulai berubah.

Namun, perasaan tulusnya kini terbayarkan dengan anak-anak lulusan dari sekolah Master bisa menorehkan prestasi, tidak kalah dengan sekolah formal pada umumnya. Rasa bangga saat anak-anaknya di Master bisa mendapatkan beasiswa, dan mengangkat martabat diri anak itu sendiri beserta keluarganya.

Harapan dari seorang Nur Rohim untuk kedepannya adalah untuk membuat dana asosiasi bisnis dari Master. Menjadi sekolah yang mandiri adalah mimpinya, sehingga dapat menjadi role model bagi pemerintahan daerah maupun pusat.


Ia selalu beranggapan apa yang terjadi hari ini adalah hasil pemikiran dari masa lalu kita, sehingga pemikiran yang akan datang harus dipersiapkan sejak hari ini. Dan kini ia memikirkan ke depannya agar tidak ada lagi orang-orang yang bingung untuk bisa bersekolah.

Selasa, 15 November 2016

Obsesi Kurus, Sehat Tak Diurus


Sebingkai foto pada zaman SMA, di dalamnya gadis belia yang masih sangat polos dengan tubuh gemuk, memakai abju berwarna putih. Penampilan fisik sama sekali bukan perhatiannya sehari-hari. Gadis cuek yang selalu berpakaian seadanya tanpa memilah-milah pakaian. Putri, yang waktu itu masih kutu buku dan berteman dengan kelompok yang setipe. Beratnya waktu itu bisa mencapai 68kg, untuk ukuran badan Putri sih itu sudah memasuki over-weight.
Berawal dari masuklah Putri ke jenjang selanjutnya, yaitu dunia perkuliahan. Dia melihat suasana berbeda dibanding masa sekolahnya dahulu, bahkan semenjak hari pertama masa orientasi mahasiswa. Suasana yang dimaksud adalah teman-teman barunya yang terlihat memperhatikan tampilan fisiknya. Putri merasa teman-teman barunya terlihat cantik dan “modis” padahal masih dengan seragam SMA-nya.
“Kok ngeliat temen-temen baru gue ini kok, pada cantik-cantik banget. Pake baju juga kayak enak dilihat gitu. Sementara gue, ah, gue gabisa ceritain. Intinya, engga banget,” ungkapan Putri mengingat masa-masa tersebut sambil masih dengan melihat foto yang ia pegang.
Remaja masa kini memang sangat peduli akan kecantikan wajah dan juga tubuhnya. Hal ini sejalan dengan penelitian di beberapa belahan dunia yang dilakukan oleh seorang pemerhati gizi di Amerika, yaitu Neumark-Sztainer, dan nyatanya terdapat 44% remaja putri yang melakukan diet berat badan di Amerika. Berdasarkan AC Nielson’s Report, perilaku diet yang ekstrim juga telah merambah di Asia Tenggara.
Adanya cermin besar yang berada di dalam toilet kampus mungkin menjadi kesenangan bagi para mahasiswi karena bisa melihat bentuk tubuh dengan clearly. Tetapi disitulah yang membuat Putri semakin tidak pede dengan berat badannya.
“Setiap gue melihat ke kaca, gue selalu merasa ‘ya ampun, temen-temen gue kurus banget, enak banget dilihat’, dan, dibandingin badan gua yang sebesar ini, oh my God,” dengan ekspresi yang mulai memperlihatkan emosi kesalnya saat melihat bentuk badannya sendiri.
Selain merasa kalau berat badannya menjadi suatu masalah terhadap penampilan fisiknya, Putri juga merasa terhambat dan malu karena menjadi lebih lambat dibanding “maba” yang lain jika melakukan sesuatu seperti lari atau kegiatan ospek lainnya. Poin ini yang makin memantapkan Putri untuk melakukan diet.
Menurut Grogan lulusan Manchester Metropolitan University, yang mempelajari tentang Body Image, tren wanita kurus mulai menjamur di tahun 1980-an dan semakin meningkat hingga saat ini, jadi sebenarnya wajar saja jika orang saat ini dapat melakukan berbagai cara demi mendapatkan tubuh yang kurus seperti model-model di majalah.
Awal masa perkuliahan menjadi awal pula untuk Putri memperbaiki penampilannya terutama mengurangi berat badannya. Entah kebetulan, dia mendengar dari temannya jika ada obat yang di klaim bagus untuk menurunkan berat badan. Demi obsesinya menjadi langsing bagaikan artis Korea, meminum obat tersebut menjadi pilihan Putri.
Walaupun harus rela nabung selama satu bulan karena harganya yang mahal, bagi Putri obat tersebut dirasa sangat ampuh. Namun, saat sedang mengonsumsi obat tersebut ia merasa bukan dirinya sendiri. Dia tidak merasakan lapar sama sekali, bahkan nafsu makannya pun hilang walaupun makanan kesukaannya seperti cokelat dan cheese cake ada di depan matanya.
 “Ini tuh tubuh gue kenapa?” ungkap Putri dengan ekspresifnya menceritakan pengalamannya.
Obat tersebut pernah membuat Putri hanya minum air putih dan makan dua potong roti dalam tiga hari berturut-turut, tetapi tidak ada rasa lapar sama sekali yang bisa dirasakan. Namun dibalik pengaruh obat tersebut, Putri merasakan efek samping yang cukup menyiksa badannya. Selain perutnya yang perih, resah dan tidak bisa tidur saat malam hari karena  membuat pikiran yang aneh-aneh dan tidak tenang.
Ini sama halnya seperti yang dikutip pada tribunnews.com, dimana penggunaan jangka panjang pil diet akan menyebabkan penglihatan kabur, mulut kering, mual, muntah, bahkan dapat menyebabkan penyakit jantung dan insomnia maupun gelisah.
Selama sebulan diet ketat, Putri hanya mengisi badannya dengan banyak minum air mineral, dan terbukti memang membuat badan Putri lebih kurus dengan cepat. Dibalik tubuhnya yang berangsur kurus inilah Ia menjadi sering mengeluarkan keringat dingin, jantung yang berdebar, muka yang tidak terlihat segar alias pucat, dan konsentrasi terganggu hingga diajak berbincang oleh orang pun tidak fokus.
Dikutip dari womenshealthmag.com sebenarnya efek tersebut sudah pernah diteliti jika orang yang minum pil diet biasanya akan mengalami peningkatan detak jantung, nyeri dada, dan akhirnya mengalami kerusakan jantung dan berbagai kesehatan lainnya. Seperti yang disebutkan pula dalam laman health.usnews.com, dimana tubuh kita tidak bisa melakukan diet yang ekstrim, dan itu merupakan hal yang salah menurut para ahli gizi. Sampai pada akhirnya, wanita berjilbab ini merasa ada yang tidak beres dengan minuman kesayangannya itu dan memutuskan untuk berhenti.
“Obat ini tuh kayaknya, udah deh stop deh, lama-lama gue bisa mati kayaknya minum obat kayak gini”, lontaran Putri dengan mimic yang merasa kapok.
Hal yang sama dirasakan juga oleh Ayu yang tidak pede dengan bentuk badannya. Padahal wanita semampai ini bisa dikatakan kurus untuk badannya sendiri yang memiliki tinggi 171cm dengan berat badan 51kg. Ayu memutuskan untuk diet karena tuntutan profesi sebagai model freelance yang bagi dia mengharuskan seseorang sekurus mungkin.
“Tapi karena emang, emm gimana ya, ketika aku nyari uang, dan aku berprofesi sebagai model, temen-temen aku pasti yang lebih kurus daripada aku kan,” lontaran perasaan Ayu dengan bawaan santai.
“Padahal setelah aku piker-pikir dulu aku ga gendut juga, tapi aku ngerasa aku butuh banget diet yang bisa sampai nyakitin diri aku sendiri,” lanjutnya.
Menurut laporan National Health Service (NHS), ada beberapa faktor pemicu orang memilih diet ketat, diantaranya:
1.      Faktor Psikologis: kecenderungan mengalami  dan mengatasi stres, mudah depresi dan cemas,  khawatir yang berlebihan akan masa depan, susah mengendalikan emosional hingga memiliki obsesi untuk kurus.
2.      Faktor Lingkungan: kecenderungan budaya barat yang menilai wanita yang ideal dan cantik adalah  yang bertubuh kurus. Tekanan dan stres di sekolah atau lingkungannya, intimidasi, khususnya tentang berat badan ideal. Selain itu, bentuk tubuh juga mempengaruhi dalam pekerjaan maupun hobi tertentu, dimana tubuh kurus adalah bentuk yang ideal.
3.      Faktor Biologis dan Genetik: perubahan fungsi otak atau kadar hormon. Bagian otak yang mengontrol nafsu makan mempengaruhi sehingga dapat menyebabkan perasaan cemas dan rasa bersalah setelah makan.
Model satu ini menjalani diet dengan tidak makan nasi selama satu bulan, dan hanya diganti satu kentang rebus untuk makanan seharian. Bukan hanya merubah pola makan, tetapi dibarengi juga olahraga yang diforsir. Pada akhirnya ia merasa, selama satu bulan masa-masa kelam untuknya itu berhasil membuat berat badannya sekitar 40-an kg.
“Aku tuh sampe kalau misalnya tiduran trus aku tengkurap, aku tuh bisa rasain tulang-tulang aku karena saking ga ada dagingnya lagi” sambil memegang perutnya yang kini terlihat sedikit lebih berisi.
Efek yang dirasakan sama seperti Putri, inginnya hanya tidur, tidak bisa banyak bicara apalagi beraktifitas dengan normal, gampang kedinginan hingga fisiknya yang sempat drop karena daya tahan tubuh yang sangat menurun. Puncaknya saat akhirnya ada masalah pada lambung Ayu yang sampai saat ini masih menyiksa tubuhnya.
Mereka yang merasa telah melakukan hal yang salah, akhirnya benar benar meninggalkan diet ekstrim versinya masing-masing. Beberapa efek buruk pun juga menyergap dua wanita cantik ini, seperti  yang dikutip dari health.usnews.com, antara lain:
1.      Gangguan Pola Makan: kemungkinan kita akan mengalami gangguan pola makan seperti anoreksia akan semakin besar.
2.      Malnutrisi: tubuh kita bisa mengalami kekurangan gizi. Jika tubuh mengalami malnutrisi, maka resiko lain yang akan timbul adalah tubuh mudah mengalami 3L (lemah, lesu, lunglai), insomnia, dan gangguan fungsi memori.
3.      Imunitas menuru: bisa berakibat pada menurunnya tingkat imunitas sehingga dapat dengan mudah sakit.
4.      Lebih bertambah gemuk: dengan melakukan diet ekstrim, ketika kita merasa sudah berhasil dengan diet kita, diet ini justru akan membuat tubuh kita semakin melar disbanding sebelumnya.
Betapa buruknya dampak yang dihasilkan diet ekstrim terhadap tubuh, ada baiknya pria maupun wanita bisa berhati-hati dalam menjalani program diet yang lebih sehat. Apa yang dilakukan Putri dan Ayu hanya satu bulan, namun efek negatif yang ditimbulkan mempunyai jangka waktu yang sangat panjang. Wajar kalau kita menyukai yang instan, namun jangan membuat kesehatan keteteran.