Sabtu, 08 April 2017

Spotlight (2015): Ketika Media Bongkar Kejahatan



Bentuk kejahatan dengan konteks kasus kekerasan seksual, terutama Paedofil yang ada dalam film Spotlight ini cukup relevan dengan beberapa kasus yang ada di Indonesia. Disaat banyak permasalahan krusian yang tidak hanya mengenai kekerasan seksual, melainkan juga masalah keamanan dan keselamatan masyarakat yang justru ditutup-tutupi dan dibiarkan begitu saja. Hal ini tentu berimbas pada semakin mengerikannya masa depan dengan adanya suatu ancaman yang serius, yaitu traumatis bagi generasi dunia.

Diangkat dari kisah nyata, dimana Marty Baron, sang editor dari The Boston Globe memberikan tugas kepada tim jurnalis investigasi untuk melakukan investigasi terhadap kasus John Geoghan. Geoghan yang merupakan seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 87 anak. Dengan berlatar tahun 2001, tim Spotlight yang beranggotakan Walter Robby (Michael Keaton), dengan reporter Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carol (Brian d’Arcy James), serta Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) berusaha keras mendapatkan informasi dengan jangka waktu yang panjang.

Mereka ditugaskan dengan job desc-nya masing-masing. Rezendez bertugas untuk mendapatkan data-data dari pengacara pihak korban, Sacha bertugas untuk mencari dan mewawancarai para korban, sedangkan Carol berusaha mendapatkan dokumen dan arsip-arsip lama sebagai bukti. Tim ini pada akhirnya menemukan fakta mengejutkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak kecil ini terjadi sangat masif dan melibatkan sistem Gereja Katholik global.

Dalam film ini juga mengajarkan kita bahwa sebagai jurnalis harus melakukan pendekatan yang baik terhadap narasumber yang relevan. Tidak hanya cukup melakukan riseet, melainkan juga harus pandai membangun relasi dengan semua kalangan. Contohnya seperti ikut makan malam, bermain golf, hingga bertamu ke rumah narasumber. Hal ini dapat mempermudah tim Spotlight dalam mendapatkan informasi.

Mengungkap kebenaran dalam kasus pelecehan seksual ini tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sementara itu, salah satu kutipan paling membuat bergidik adalah ketika ada salah satu karakter berujar bahwa anak-anak yang hidup dan berkembang di lingkungan keluarga miskin–atau keluarga yang bermasalah, misal tidak harmonis atau orangtua bercerai–, lebih condong menjadikan lingkungan agama sebagai pelarian. Apabila konteksnya di film ini adalah gereja Katholik, ketika anak-anak itu dekat dengan pendeta, mereka merasa mendapatkan pertolongan Tuhan. Sebagian orang memanfaatkan itu untuk memenuhi hasrat seksual. Akibatnya, sekeji apa pun kejahatannya, karena berkedok agama, tidak ada yang berani mengungkapkannya, bertahun-tahun. Kejahatan seksual terhadap anak-anak itu bahkan disebut tidak hanya physical abuse, namun juga spiritual abuse. Mereka yang menjadi korban merasa seperti terjebak di sebuah sistem yang salah, tapi tidak bisa berbuat banyak.

Ada satu momen ketika Sacha (Rachel McAdams) mencoba menghubungi salah satu pendeta yang masuk dalam daftar tersangka. Ketika bertemu langsung, dengan muka pasrah pendeta itu mengakui perbuatannya. Namun dia melakukan tindakan itu karena dulunya dia juga pernah menjadi korban. Sacha tidak bisa melanjutkan wawancaranya karena langsung diusir oleh wanita yang juga tinggal di rumah itu. Setelahnya, Spotlight menyajikan salah scene paling heartbreaking. Sacha berdiri terpaku di pinggir jalan, masih syok, tiba-tiba diperlihatkan ada sekumpulan anak yang sedang bersepeda dengan riang gembira. Mata saya basah ketika menyaksikan adegan ini.



Untuk film dengan nilai sempurna, saya akan selalu menutupnya dengan ucapan terima kasih, begitu pula dengan Spotlight. Terima kasih kepada para aktor dan aktris yang telah menunjukkan sebuah performa brilian, terutama Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, serta Brian d’Arcy James. Terima kasih kepada Tom McCarthy sebagai sutradara sekaligus penulis naskah–bersama Josh Singer–yang telah menyajikan jalinan sequence yang tidak henti-hentinya memberikan efek merinding. Terima kasih telah menutup Spotlight dengan sangat menggetarkan–menunjukkan momen victims voice–hingga membuat saya kembali menangis. Dan terima kasih kepada tim Spotlight yang sesungguhnya, yang telah menampar dunia, mengingatkan supaya jurnalistik tetap semurni itu tujuannya. Terima kasih.

Jangan pernah tunduk pada pemufakatan jahat, jangan takut untuk menguak hal tabu. Jika ada tindakan jahat dan sistemik yang diduga terjadi, medialah yang harus menjadi pencerahnya. Bukan ikut bersembunyi di balik tirai kepentingan golongan pelaku kejahatan.

Selasa, 17 Januari 2017

Budaya Bicara Di Balik Banjirnya Data

Tidak dapat dipungkiri jika setiap hari kita dibanjiri olah berbagai data. Informasi baru selalu berdatangan dari waktu ke waktu tanpa jeda dan terus diperbaharui. Informasi silih berganti diperlihatkan, dituliskan, dan diproduksi untuk dirujuk sebagai landasan data.

Kini kita berada di zaman Generasi Millenial, di mana setiap individu dituntut untuk bergerak cepat. Sehingga informasi pun dibuat dengan melihat akurasi, bukan akuratnya. Terlebih lagi teknologi yang sudah semakin canggih, dan internet pun sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang terutama anak muda.

Hal itu membuat dalam derasnya arus informasi kita didorong untuk mengikuti logika kecepatan. Sehingga tindakan komunikasi yang kita keluarkan menjadi kering akan makna. Kecanggihan teknologi komunikasi sudah berhasil masuk ke dalam aspek kesadaran manusia, seakan teknologilah yang berbicara kepada penggunanya. Makna atau isi dari pesan bukanlah lagi menjadi pusat perhatian.

Sebenarnya Nicholas Carr sudah pernah memperingatkan, seperti yang pernah ditulis dalam bukunya yang berjudul The Shallows, yaitu: 

"Mereka yang biasa membaca dari link, hanya sedikit paham daripada mereka yang membaca linear teks yang tradisional (seperti buku, koran, dan hal-hal yang bersifat di-print); mereka yang terbuai dan sibuk dengan pemberian informasi secara multimedia akan sedikit ingat daripada mereka yang benar-benar berusaha terfokus akan informasi; mereka yang terdistraksi melalui email, dan notifikasi di telepon selular akan memahami sedikit daipada mereka yang benar-benar berkonsentrasi; juga mereka yang mengaku bahwa bisa multitasking adalah orang yang kurang kreatif dan kurang produktif daripada mereka yang melakukan satu hal di suatu waktu."

Membludaknya data-data yang ditampilkan membuat pesan yang disampaikan menjadi tidak dapat lagi dicerna dengan baik. Bertebaran berita yang dimunculkan dan dalam waktu singkat menjadi kesulitan untuk memetik maknanya. 

Keadaan yang seperti inilah yang membuat pola komunikasi masyarakat kini cenderung lebih ringan dalam mengekspos segala sesuatu. Segala hal ingin dibicarakan tanpa terkecuali. Pepatah "diam itu emas" seakan sudah tidak berlaku. Budaya berkomentar pun muncul, di mana membaca semakin terkikis dengan data-data yang membanjiri. 

Segelintir orang membaca, namun tidak benar-benar memahami. Berkomentar tanpa tahu betul apa yang sebenarnya telah terjadi. Sayangnya orang-orang hanya menggunakan satu perspektif untuk dapat berspekulasi, dan lupa untuk memandang dari sisi yang lain.

Mudah terbawa oleh terpaan media sehingga kita membutuhkan pandangan yang lebih luas. Tetapi semuanya menjadi sulit kendati data-data yang terpampang sangat banyak. Beberapa data dianggap cukup dan dipercayai bahwa yang terjadi benar adanya.

Setelah mempercayainya, mereka yang tidak melek informasi ini akhirnya membagikan kembali informasi yang telah didapatkannya. Hal itu pula yang memicu banyaknya berita-berita hoax yang beredar. 

Akibatnya, akan terjadi kesalah-pahaman informasi yang diterima oleh masyarakat, karena data tersebut akan terus menerus diterima. Untuk itu, sebaiknya kita lebih kritis dalam menyikapi kabar atau berita yang menerpa kita, dengan cara:

1. Perhatikan sumber berita.
Anda sebaiknya mengecek sumber dari informasi yang didapatkan, apakah kredibel atau tidak. Bisa saja orang yang tersebut hanya menyebarkan tanpa tahu pasti kejadian yang sebenarnya.
Baca seluruh isi, bukan hanya judul.

2. Judul bisa saja menjebak, dan tidak akan bisa menggambarkan suatu informasi secara utuh. Bisa saja judulnya terlalu heboh namun isinya tidak seperti apa yang di-interpretasi kan oleh pikiran kita saat membaca bukunya.

3. Judul yang berlebihan patut dicurigai.
Berita yang sebenarnya biasa saja bisa menjadi terkenal terkadang karena adanya judul yang menghebohkan. Karena memang kini berada pada zaman clickbait, di mana judul yang heboh akan menarik perhatian.

4. Tidak mudah percaya terhadap foto atau video.
Canggihnya teknologi saat ini semakin kreatif dan mudah untuk dimanipulasi. Jika menemukan berupa audio-visual yang aneh maka harus dicari kembali sumbernya, dan ditelisik kembali apakah informasi tersebut benar.

5. Jangan malas.
Disini dalam arti jangan malas untuk membaca, dan mencari tahu lebih jauh akan informasi yang kita temui. Hal ini bisa membuat kita lebih kritis dalam mengahadapi data dan kenyataan yang ada.


Selasa, 10 Januari 2017

Lembang Sejenak

Memandang lautan jernih dengan beratapkan langit biru yang menggoda. Atau pepohonan hijau yang menyegarkan mata, dibalut sejuknya semilir angin saat menatap matahari yang mulai masuk untuk menyinari bumi. Itulah angan-angan ku sedari dua tahun yang lalu. Dimana saya sangat ingin menikmatinya, dibalik hiruk-pikuk kota yang begitu-gitu saja.

Namun kini saya sudah tidak mau muluk-muluk. Dengan kesibukan magang, berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan, dan ribetnya persiapan Tugas Akhir membuat khayalan saya terkikis. Yang terbesit di pikiran hanyalah "tolong bawa pergi saya kemana pun, hanya keliling seputaran daerah kota tidak apa-apa asal bisa refreshing".

"Lo kurang piknik sih", merupakan kalimat yang sering disebutkan oleh teman-teman saya. Namun karena kata-kata itu akhirnya saya mengajak teman peer-group untuk liburan. Kemana pun deh, asal liburan. Karena terbilang sangat dadakan, saya hanya bisa merayu empat teman saya. Rasanya jika liburan ini gagal, saya ingin tetap nekat sendiri. Tapi, lebih enak kalau liburan dengan kebersamaan bukan?

Alarm handphone berusaha membangunkan kami. Menandakan sudah pukul tiga pagi, saatnya untuk bersiap-siap. Sebelum berangkat kami mulai hitung-hitungan soal uang. Berhubung kita dadakan, jadi uang pun juga harus se-hemat mungkin. Seperti biasa, lagi-lagi saya yang menyimpan jatah untuk hura-hura ngirit kali ini.

Mobil pun mulai dihidupkan, dan, waktunya liburan! Yeay! Oh iya, perjalanan kali ini kami memutuskan untuk ke Paris Van Java, alias Bandung. Tepatnya sih akan di daerah Lembang. Kami berangkat sekitar pukul 4.30, jadi langit masih gelap dan sepanjang perjalanan lancar jaya. 

Sepanjang perjalanan panjang dari memasuki tol Cikampek kami hanya ngobrol dan bercanda, dengan maksud agar teman saya yang menyetir ga ngantuk. Kami sempat berbincang tentang kejadian Brexit yang memakan korban jiwa yang belum begitu lama terjadi saat libur Idul Fitri. 

"Emang ada apa sih dengan tol Cipali?" celetuk salah satu teman saya bernama Arrum.

Perjalanan saat di Tol Cikopo-Palimanan, Jawa Barat.
Hanya selang waktu beberapa detik, tiba-tiba jalanan tol menjadi sepi dari yang tadinya lumayan padat. Canda tawa mendadak menjadi hening. Kami berada di jalanan panjang dengan dikanan maupun kiri tidak ada pemandangan rumah penduduk, apalagi mengharapkan adanya Rest Area. Yang ada hanyalah jalanan yang menurut kami agak gersang.

Disaat yang sama saat celetuk Arrum terlontar, sebenarnya saya melihat marga jalan yang salah satunya ada tulisan Cipali, namun tidak tahu kenapa saya hanya terdiam. Dan benar saja, kita memasuki tol Brexit yang baru saja kami jadikan salah satu candaan.

Lucunya, mobil yang penuh dengan gosip dari mulut lima cewek mendadak menjadi seperti pengajian, penuh dengan dzikir. Saya jadi bisa membayangkan, bagaimana tidak jatuh korban jiwa jika memang berjam-jam berkutat dengan gersang, panas, dan tidak adanya tempat makan maupun toilet di sepanjang jalan.

Tadinya sih mau ke Brebes aja, beli makanan yang menjadi andalannya yaitu Telur Asin. Toh perjalanan juga sudah jauh melewati tol Cipali. Tapi berhubung mau menginap di rumah pamannya Arrum, kami harus tetap berputar haluan ke Lembang.

Akhirnya sampai juga di kota kenang-kenangan yang bagi saya sudah jarang jumpa, seperti sepenggal lirik dari Halo-halo Bandung. Tempat pertama yang ingin kita datangi adalah kolam renang, tapi di hotel biar gaya. SanGria Resort & Spa pun jadi pilihan yang sangat tidak mengecewakan.

SanGria Resort & Spa, Lembang, Jawa Barat.
We found paradise in Lembang! Pemandangannya bagus banget. Saya bisa berenang sambil menikmati hamparan pepohonan hijau di depan mata. Tempatnya pun sangat private, jauh dari keramaian sehingga cocok sekali untuk yang ingin menyingkir sejenak dari dunia perkotaan. Terdapat pula saung bar di pojok kolam renang dan  Jacuzzi.

Dengan Rp 75.000,- saya sudah bisa menikmati itu semua, dan mendapatkan makanan maupun minumannya. Sedangkan jika ingin spa bisa menambahkan sekitar Rp 50.000,-. Harga yang cukup worth it bagi saya dengan fasilitas yang didapatkan.

Abis renang kayak nya enak ya kalau minum susu. Berhubung saya dan beberapa teman saya penasaran Farmhouse seperti apa, jadi lah tempat rumah itu jadi destinasi selanjutnya. Perjalanan cukup padat dan menanjak saat kesana. Sesuai dengan perkiraan, tempat minum susu itu sangat ramai oleh pengunjung terutama anak-anak.

Farmhouse, Lembang, Jawa Barat.
Kandang Biri-biri di Farmhouse
Saat ingin memasuki Farmhouse, kami harus membeli tiket dahulu seharga Rp 20.000,- per orang. Tiket tersebut bisa ditukarkan dengan susu sesuai dengan pilihan rasa yang ada salah satunya ada rasa cokelat. Awalnya saya merasa aneh, kenapa ada yang memakai baju ala "none Belanda". Ternyata disini disewakan juga loh baju-baju khas Belanda untuk menunjang foto pengunjung.

Di dalam Farmhouse sendiri banyak sekali tempat yang dijadikan spot foto, salah satunya adalah rumah The Hobbit yang menurut saya menjadi background foto ter-mainstream di explore Instagram. Terdapat pula kandang yang terbuat dari pagar-pagar kayu yang berisikan biri-biri, dan saya bisa berfoto bahkan memberi makan mereka.

Saya merasa agak salah memilih ke Farmhouse pada saat itu, karena semua spot foto dipenuhi oleh pengunjung. Bahkan saking ramainya, untuk berjalan pun lumayan tersendat. Maklum sih, saat itu lagi musim libur anak sekolahan.

Mood kami sepertinya agak berubah, mungkin karena mulai lelah dan kurang puas saat berada di Farmhouse. Jadi saya mulai mencari tempat yang enak untuk nongkrong santai. Dan saya pun merekomendasikan Lereng Anteng Panoramic, karena di Instagram review dan foto tempatnya terlihat menyenangkan.


Lereng Anteng Panoramic, Lembang, Jawa Barat
Sumber: instagram.com/lerenganteng/
Awalnya kami sempat ragu, karena saat perjalanan menuju Lereng Anteng dirasa cukup sulit. Jalanan yang berbatu, sempit, dan menanjak membuat Vero, teman saya yang menyetir menjadi sangat hati-hati. Saya pun was-was melewatinya, tapi untung dia sudah handal.

Bagai peribahasa 'berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian'. Walaupun perjalanan menuju tempat itu sulit, tetapi terbayarkan sudah oleh pemandangan yang disuguhkan. Saya seperti bisa melihat seluruh kota Bandung dari atas sini! Namanya juga di lereng bukit.

Tempatnya juga terbilang lucu dan nyaman untuk bersantai menikmati kopi atau pun bandrek susu. Saya dan teman-teman memilih untuk duduk di atas, dengan sofa empuk seperti bantal. Kalau dibawah sebenarnya juga enak, jadi kayak di dalam tenda bening gitu. Tapi pada saat itu entah kenapa terlihat belum dibersihkan lagi oleh disana.

Disana juga terdapat area bermain untuk anak-anak, seperti ayunan dan semacamnya. Untuk soal harga, makanan disini terbilang cukup terjangkau kisaran Rp 5.000,- hingga Rp 30.000,- dengan makan dan minuman yang bervariasi.

Matahari perlahan turun digantikan oleh sinar-sinar dari lampu perkotaan, dan bintang-bintang yang tempak jelas dilangit saat itu. Meneguk secangkir kopi di Lereng Anteng menutup liburan saya pada hari itu. Saya sangat menikmati semilir angin sambil memandang lampu-lampu kota, yang sudah dua tahun terakhir jarang saya jumpai.